JAKARTA – Listrik padam terjadi di berbagai wilayah di pulau Jawa khususnya di bagian barat dalam beberapa hari terakhir. Dunia Energi bahkan menerima laporan dari masyarakat di Jakarta, Bekasi hingga Depok pemadaman listrik setiap hari terjadi secara bergiliran dengan durasi bervariasi antara 30 menit sampai beberapa jam. Terbaru listrik di Bekasi padam yang berdampak langsung pada fasilitas pompa air milik Perumda Tirta Patriot. Ini menyebabkan air mati di Empat Kecamatan di wilayah Kota Bekasi.

Berbagai spekulasi bergulir di tengah masyarakat tentang faktor penyebab padamnya listrik secara bergiliran. Paling santer adalah menipisnya pasokan batu bara bagi pembangkit listrik di sistem kelistrikan Jawa Madura Bali (Jamali).

Spekulasi tersebut bukan tidak mungkin terjadi, pasalnya hal yang sama pernah terjadi sebelumnya di tahun 2022 saat krisis batu bara untuk pembangkit terjadi akibat tingginya harga batu bara di pasaran hingga ke level lebih dari US$200 per ton sementara harga di dalam negeri telah dipatok pemerintah sebesar US$70 per ton.

Saat ini harga batu bara sebesar US$150 per ton. Belum lagi ada kondisi dimana masih banyak perusahaan yang mendapatkan persetujuan Rencana Kerja Anggaran dan Biaya (RKAB).

Informasi yang diperoleh dari sumber Dunia Energi menyatakan bahwa saat ini Hari Operasi Pembangkit (HOP) pembangkit di wilayah Jawa berada dalam kondis merah. Artinya berada diantara 5-10 hari.

Tri Winarno, Plt Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM hingga berita ini diturunkan belum menjawab pertanyaan Dunia Energi terkait kondisi HOP pembangkit listrik.

Sementara itu, Dwi Anggia, Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyatakan belum mendapatkan laporan terkait menipisnya stok batu bara untuk pembangkit listrik. Justru dia mendapatkan informasi tentang adanya gangguan di fasilitas PLN.

“Tidak ada batu bara menipis. Memang ada beberapa gangguan terkait teknis. Kita sudah berkomunikasi dengan PLN untuk mengantisipasi agar peristiwa ini tidak berulang. Kalau ada isu-isu yang akan ada pemadaman itu tidak benar, dipastikan tidak benar,” jelas Anggia di Kementerian ESDM, Kamis (11/6).

Dia juga menampik ada persoalan terkait kuota produksi batu bara yang berimbas pada stok untuk pembangkit listrik. Pemerintah kata Anggia telah memutuskan untuk membuka keran produksi batu bara secara bertahap. Artinya target atau kuota produksi yang sempat ditetapkan awal tahun lalu akan direlaksasi.

“Pak Menteri juga jelas menyampaikan terkait RKAB ini kan ada relaksasi bertahap ya, melihat bagaimana kebutuhan, tetap mempertimbangkan kebutuhan industri dengan kuota batu barang yang tersedia ke sana. Jadi tidak ada gangguan terkait dengan pasokan atau suplai energi untuk PLN,” jelas Anggia.

PLN sendiri hingga kini masih belum memberikan penjelasan secara komperehensif tentang kondisi gangguan yang dialami masyarakat. Satu hal yang pasti, kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut. Masyarakat sudah dihantam berbagai tekanan dari berbagai kebijakan pemerintah. Terakhir adalah harga BBM, meskipun tidak disubsidi dan dikatakan wewenang badan usaha tapi jangan lupa negara juga yang ikut mengevaluasi harga BBM non subsidi itu naik atau tidak. (RI)