JAKARTA – Bangunan masih menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia dengan kontribusi hampir 40%. Schneider Electric menilai penerapan teknologi pintar tidak bisa ditunda lagi.

“Bukan hanya mengurangi konsumsi listrik, efisiensi energi berarti memastikan energi digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan, dan kenyamanan,” ujar Reza Syarif, Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia dalam Media Masterclass for Buildings of The Future di Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Reza menyebut sekitar 95,5% data yang dihasilkan sektor konstruksi dan engineering belum dimanfaatkan optimal. Akibatnya, 30% energi di dalam gedung terbuang sia-sia.

“Rendahnya pemanfaatan data menjadi tantangan terbesar industri bangunan saat ini,” kata Reza Syarif. Ia menyebut 40% inefisiensi operasional gedung sebenarnya sudah terbentuk sejak tahap perancangan.

Dorongan ke bangunan cerdas semakin kuat dengan adanya Permen PUPR No 10/2023, Permen ESDM No 8/2025, dan Pergub DKI No 5/2026. Regulasi tersebut mewajibkan integrasi sistem kelistrikan, HVAC, air, hingga keamanan siber serta manajemen energi untuk gedung dengan konsumsi minimal 500 setara ton minyak per tahun.

“Dengan semakin tingginya kebutuhan gedung yang aman, nyaman, hemat energi, transformasi digital menjadi fondasi penting,” kata Reza.

Pengelola gedung saat ini menghadapi 4 tantangan utama: sustainability, resiliency, efficiency, dan people-centricity.

Menurut Reza Syarif, Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, keempatnya harus dijawab melalui pendekatan terintegrasi dan berbasis data.
“Kami ingin membantu pemilik gedung membangun operasional yang lebih efisien, resilient, sustainable, dan berorientasi pada manusia,” katanya.

Untuk itu Schneider Electric meluncurkan kampanye “Teknologi Cerdas untuk Bangunan yang Efisien” berbasis 4 pilar: Hyper-Efficient, Resilient, Sustainable, People-centric. Schneider Electric juga menyediakan layanan asesmen EcoConsult Walkthrough Assessment dan EcoConsult Energy Efficiency untuk mengidentifikasi peluang penghematan energi, modernisasi aset, peningkatan keselamatan, serta pengurangan biaya operasional.

Efisiensi energi tidak hanya untuk gedung baru. Schneider Electric menyatakan bangunan eksisting juga bisa ditransformasi melalui modernisasi sistem secara bertahap.

Melalui kampanye “Teknologi Cerdas untuk Bangunan yang Efisien”, perusahaan menawarkan solusi untuk mengoptimalkan sistem agar lebih Hyper-Efficient, Resilient, Sustainable, dan People-centric.
“Pendekatan ini relevan bagi gedung baru maupun eksisting,” tegas Reza.(RA)