YOGYAKARTA – Pemerintah saat ini sedang ancang-ancang untuk memperluas penggunaan CNG (Compressed Natural Gas) sebagai bahan bakar alternatif LPG. CNG biasanya sudah digunakan di sektor transportasi tapi ke depan diharapkan bisa juga digunakan di sektor rumah tangga.
Dibalik rencana ambisius pemerintah demi menekan penggunaan LPG yang banyak didatangkan dari impor tersebut penggunaan CNG ternyata sudah didorong oleh PT Pertamina Gas Negara (Tbk) atau PGN untuk sektor komersial. Anak usaha PGN yakni PT Gagas Energi Indonesia sejak tahun 2026 terus melayani pelanggan-pelanggan baru yang mulau menggunakan CNG.
Yudi Chief Engineering Hotel Platinum Yogyakarta mengungkapkan rata-rata pemakaian CNG mencapai 1.200-1500 M3 CNG per bulan atau setara sekitar 1.500 Kg LPG. Manajemen hotel memilih beralih ke CNG karena bisa menghasilkan efisiensi cukup signifikan. “Secara pemakaian itu kalau kita rupiahkan itu cukup hemat dari sebelumnya. Penghematannya sekitar 20 sampai 30 persen. Biasanya sekitar Rp29 – Rp30 juta ini bisa turun jadi sekitar 20 juta,” kata Yudi ditemui di Hotel Platinum Yogyakarta, Selasa (15/9).
Hotel Platinum sendiri mulai beralih pada Januari 2026. Sejauh ini manajemen kata Yudi menilai banyak keuntungan yang diperoleh mulai dari tidak hanya dari sisi harga yang lebih murah tapi juga dari sisi kemudahan pasokan hingga keamanan. Mekanismen untuk memastikan keandalan pasokan juga terbilang mudah dan bisa dilakukan secara real time. “Kita ada grup dengan teman-teman Gagas, jadi nanti dibaca meterannya kalau sekiranya sudah mau habis tinggal lapor terus pengisian ulang,” jelas Yudi.
Pelanggan baru lainnya di Yogyakarta adalah restoran Marugame Udon yang baru melakukan trail penggunaan selama tiga bulan terakhir. Manajemen mencoba untuk menggunakan CNG karena kabar positif yang diterima dalam penggunaannya.
Dedi Sugianto Supervisor Marugame Udon Kaliurang, menjelaskan kemudahan pasokan jadi salah satu keunggulan utama dibandingkan saat masih menggunakan LPG. Dalam ebulan Marugame Udon Kaliurang menggunakan sekitar 1.000 M3 CNG. “Tanpa menunggu sampai gas habis, dua hari sekali langsung melakukan refill,” ujar Dedi.
Kemudian dari sisi kualitas pembakaran, Dedi mengakui ada perbedaan yang sangat terasa. Itu terlihat dari warna api yang dihasilkan CNG jauh lebih biru dibandingkan LPG yang masih kemerahan. Ini berdampak pada kualitas memasak yang lebih sempurna. “CNG ini lebih besar tekanan out-nya daripada yang LPG. LPG kita buka tuasnya full, itu baru akan keluar yang gas sempurnanya. Warnanya pun juga enggak terlalu merah gitu, biru warnanya,” ungkap Dedi.
Para pelanggan retail dan komersial CNG di wilayah Yogyakarta pada umumnya adalah konsumen yang jauh dari fasilitas pipa gas transmisi milik PGN namun mau merasakan manfaat dari penggunaan gas. Untuk mendorong penggunaan CNG berbagai kemudahan pelayanan memang jadi salah satu strategi yang diusung oleh Gagas.
Miranti Dyah Pramesti, Head Area Gagas Yogyakarta, menjelaskan penyaluran CNG diikat dalam kontrak di periode tertentu sehingga harga gasnya juga stabil tidak berubah-ubah dengan sistem pembayarannya juga bisa disepakati. “Jadi ada kontrak 1 tahun, terus kemudian, jadi kontrak 1 tahun, terus nanti disepakati kan kalau pembayarannya seperti apa. Kalau pasca bayar tuh setiap tanggal 5, jatuh tempo tanggal 20,” ungkap Miranti.
Dia menjalaskan alur untuk bisa menjadi pelanggan CNG terlebih dahulu harus mengajukan permintaan kepada Gagas. Setelah itu, perusahaan melakukan survei untuk memastikan kebutuhan volume gas serta kesiapan lokasi pelanggan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam survei adalah kebutuhan volume gas. Gagas menetapkan minimum konsumsi sebesar 500 meter kubik (m3) per bulan bagi pelanggan yang mengajukan layanan tersebut.
“Surveinya itu terkait satu, volumenya berapa, karena kita ada minimumnya 500 kubik per bulan,” ujar Miranti.
Selain volume, survei juga mencakup kondisi lokasi. Hal ini penting karena karakteristik penggunaan CNG berbeda dengan pelanggan yang sebelumnya menggunakan LPG.
Miranti menjelaskan, di wilayah Yogyakarta sistem penyaluran CNG dilakukan dengan metode injeksi. Sementara itu, sebagian pelanggan sebelumnya menempatkan tabung LPG di dalam ruangan. Survei tersebut sekaligus menentukan kebutuhan instalasi tambahan, pemanfaatan instalasi yang sudah tersedia, serta jumlah kompor yang akan dikonversi dari LPG menjadi CNG.
“Terus nambah instalasi atau enggak, atau masih bisa pakai instalasi yang eksisting. Terus kompornya ada berapa yang mau kita konversi,” katanya.
Dari sisi harga, Miranti mengatakan harga CNG untuk pelanggan retail melalui layanan GasKu bersifat flat selama periode kontrak. Skema ini membuat pelanggan tidak menghadapi perubahan harga dalam jangka pendek yang mengikuti pergerakan harga minyak dunia.
“Kalau CNG, kalau GasKu ini flat. Jadi memang kalau untuk retail ya, saya ngomongnya untuk retail, kita memang harganya karena tidak terpengaruh dengan minyak dunia, jadi kita enggak ikut yang tiap dua minggu itu,” jelas Miranti.
Meski demikian, harga akan kembali dievaluasi ketika kontrak berakhir. Peninjauan dilakukan apabila terdapat perubahan harga dari pemasok gas.
Untuk wilayah Kota Yogyakarta, saat ini terdapat empat pelanggan yang telah menggunakan CNG Gagas. Sementara pengembangan pasar masih terus dilakukan, termasuk di wilayah Solo dan Magelang. Adapun total volume penyaluran CNG Gagas di kawasan Jawa Tengah bagian selatan, termasuk Yogyakarta-Solo, saat ini mencapai sekitar 80 ribu meter kubik per bulan. “Kalau volume hari ini sudah di 80 ribuan. 80 ribu meter kubik,” ujar Miranti.
Khusus Yogyakarta, volume penyaluran berada di kisaran 50 ribu-60 ribu meter kubik per bulan dengan empat pelanggan. “Kalau Jogja sendiri itu 50 ribuan lah, 50 sampai 60 ribu volumenya,” katanya.
Selain pelanggan retail, pemanfaatan CNG juga mulai masuk ke fasilitas SPPG yang mendukung program MBG. Saat ini terdapat sekitar 10 SPPG yang dilayani Gagas di Solo dan dua SPPG di Magelang.
“Memang masih banyakan yang retail kita di Solo. MBG gitu, SPPG yang paling banyak. SPPG itu kita di Solo ada 10, terus kemudian di Magelang ada 2,” ujarnya.
kata Miranti.
Miranti menjelaskan, pengembangan CNG menjadi salah satu solusi bagi pelanggan yang lokasinya belum terjangkau jaringan pipa gas bumi. Gagas pada dasarnya mengakomodasi kebutuhan pelanggan di wilayah yang belum memiliki jaringan pipa. Dengan demikian, CNG menjadi alternatif untuk menghadirkan gas bumi tanpa harus menunggu pembangunan jaringan pipa.
“Gagas itu kan memang mengakomodir lokasi pelanggan yang belum ada jaringan pipanya,” jelas Miranti.
Namun, ketika jaringan pipa gas bumi sudah tersedia di suatu wilayah, pelayanan gas bumi selanjutnya akan dikembalikan melalui jaringan pipa yang dikelola PGN. “Ketika sudah ada jaringan pipa gas, kita kembalikan ke PGN, gas pipa,” ujar Miranti. (RI)





Komentar Terbaru