JAKARTA – Kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di wilayah kerja (WK) Agung I dan Agung II, lepas pantai Bali, memasuki babak baru. Setelah pemerintah menyetujui pengalihan sebagian participating interest (PI) dari bp kepada INPEX, kedua perusahaan kini sepakat mempercepat kegiatan eksplorasi, termasuk akuisisi data seismik 2D dan 3D.
Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menandatangani persetujuan pengalihan PI WK Eksplorasi Agung I dan Agung II pada 7 September 2026.
“Alhamdulillah, setelah Bapak Menteri menandatangani persetujuan pengalihan PI tanggal 7 September 2026 WK Eksplorasi Agung I dan Agung II dari bp sebagai operator kepada INPEX, sehingga saat ini pemegang PI menjadi 50% bp dan 50% INPEX,” ujar Djoko dalam keterangannya, Jumat malam (11/9).
Menurut dia, sehari setelahnya, tepatnya pada 10 September 2026, dilakukan pertemuan dengan Gubernur Bali beserta jajaran di Kantor Gubernur Bali. Pertemuan tersebut dihadiri pimpinan tertinggi bp dan INPEX beserta jajaran, Kepala dan Deputi Eksplorasi SKK Migas serta akademisi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Pertemuan tersebut membahas percepatan pelaksanaan survei seismik di WK Agung I dan Agung II.
“Untuk membahas percepatan pelaksanaan seismik 2D dan 3D sepanjang masing-masing 285 km 2D dan 3.650 km 3D,” kata Djoko.
Djoko menuturkan, Gubernur Bali juga memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di wilayah tersebut. Sebagai bagian dari kearifan lokal, Gubernur Bali bahkan berencana menggelar upacara adat di laut Bali pada 24 September 2026.
Upacara tersebut akan melibatkan seluruh pihak terkait sebagai bentuk permisi kepada alam sebelum kegiatan survei seismik dilakukan.
“Gubernur Bali akan melakukan upacara adat tanggal 24 September di laut Bali sebagai kearifan lokal dengan mengundang semua pihak terkait untuk permisi kepada pemilik alam laut agar kegiatan seismic berjalan lancar, aman dan selamat,” ujar Djoko.
Dia mengatakan kegiatan seismik tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih akurat mengenai potensi hidrokarbon di bawah perairan Bali.
Berdasarkan perhitungan awal, potensi hidrokarbon di wilayah kerja tersebut diperkirakan berada pada kisaran 1–7 TCF gas, dengan rencana pengembangan produksi sekitar 200 MMSCFD apabila hasil eksplorasi menunjukkan cadangan yang ekonomis untuk dikembangkan.
Djoko menambahkan, berdasarkan perhitungan Gubernur Bali, tanggal 22 Oktober 2026 menjadi waktu yang dianggap paling baik untuk memulai pelaksanaan survei seismik.
“Adapun menurut hitungan Bapak Gubernur, hari keberuntungan maksimal pelaksanaan seismic dimulai pada bulan depan, Oktober tanggal 22,” katanya.
Menurut Djoko, dukungan pemerintah daerah menjadi faktor penting untuk memastikan kegiatan eksplorasi dapat berjalan lancar. Selain WK Agung I dan Agung II, pemerintah daerah juga mendukung kegiatan eksplorasi di WK Barong yang berada di wilayah lepas pantai utara Pulau Bali.
SKK Migas, pemerintah daerah, INPEX dan bp, lanjut Djoko, memiliki semangat yang sama untuk mempercepat seluruh tahapan eksplorasi, mulai dari akuisisi data seismik, analisis data hingga pengeboran sumur eksplorasi.
“SKK, Pemda, INPEX dan bp mempunyai semangat yang sama untuk mempercepat kegiatan seismic, analysis data seismic dan pengeboran eksplorasi,” ujar Djoko.
Untuk kegiatan survei seismik tersebut, total investasi yang akan dikeluarkan mencapai lebih dari US$42,7 juta.
Kegiatan seismik direncanakan berlangsung hingga awal 2027. Setelah data diperoleh dan dianalisis, apabila ditemukan indikasi potensi hidrokarbon yang signifikan, kegiatan akan dilanjutkan dengan pengeboran satu sumur eksplorasi sebagai bagian dari komitmen pasti (firm commitment).
“Apabila dari analysis hasil seismic nantinya menemukan adanya potensi hydrokarbon yang besar, maka akan dilanjutkan dengan pengeboran satu sumur eksplorasi senilai US$25 juta sebagai komitmen pasti,” kata Djoko.
Djoko optimistis kehadiran dua perusahaan migas besar, bp dan INPEX, akan memperkuat peluang keberhasilan eksplorasi di wilayah Bali. Keduanya dinilai memiliki pengalaman panjang dalam menemukan dan mengembangkan sumber daya migas berskala besar di Indonesia.
“Kami sangat yakin dan optimis dua raksasa Jepang, INPEX, dan Inggris, bp, bukan kaleng-kaleng karena sangat berpengalaman menemukan cadangan gas yang sangat besar di Tangguh Papua dan Masela Maluku,” ujar Djoko.
Dia menambahkan, kedua perusahaan juga memiliki teknologi eksplorasi mutakhir, dukungan pendanaan yang kuat serta sumber daya manusia yang berpengalaman dan profesional.
Eksplorasi Agung I dan Agung II menjadi salah satu upaya untuk membuka potensi sumber daya migas baru di kawasan Indonesia bagian timur dan Bali, sekaligus memperkuat basis pasokan gas domestik apabila temuan komersial berhasil dikonfirmasi melalui rangkaian kegiatan eksplorasi dan pengeboran.





Komentar Terbaru