SAUMLAKI – Satuan Kerja Khusus Pelaku Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) berusia genap 24 tahun pada 16 Juli 2026 lalu. Saat memasuki usia ke 24 bertepatan juga dengan salah satu momen paling bersejarah dalam industri hulu migas tanah air yaitu mulai bergulirnya proyek gas terbesar yang pernah ada di ibu pertiwi, Proyek Lapangan Abadi Masela.

Selama lebih dari dua dekade, perjalanan pengelolaan hulu migas banyak alami pasang surut. Tantangan silih berganti datang yang justru makin menunjukkan berapa krusial dan pentingnya posisi migas bagi Indonesia.

16 Juli 2002 BP Migas resmi dibentuk sebagai pelaksana pengelolaan kegiatan usaha hulu migas mewakili pemerintah, namun pada 2012, Putusan Mahkamah Konstitusi sempat membuat industri hulu migas tanah air gempar, terkejut karena membubarkan BP Migas. Pemerintah -pun dengan segera langsung membentuk SKK Migas sebagai kepanjangan tangan untuk memastikan kegiatan operasi, perizinan serta ketersediaan migas tetap bisa berjalan

Sejak saat pembentukannya SKK Migas tidak berhenti berkembang dengan terus mendorong berbagai penyederhanaan perizinan, percepatan eksplorasi, berbagai penyesuaian fiskal untuk meningkatkan daya tarik investasi.

Salah satu momen yang jadi wujud ketangguhan SKK Migas dalam mengawal kegiatan operasi hulu migas adalah saat terjadi pandemi COVID-19 di Medio 2020-2023 karena semua aktivitas pengeboran dan investasi melambat. Namun ajaibnya produksi tetap dijaga. Migas tetap mengalir deras ke masyarakat.

Pasca pandemi SKK Migas makin berlari. Mulai dari pengembangan potensi ladang – ladang migas baru, percepatan kegiatan eksplorasi laut dalam dan potensi di wilayah Timur Indonesia hingga yang paling ditunggu-tunggu selama hampir tiga dekade yaitu dimulainya Proyek LNG Lapangan Abadi Blok Masela.

Djoko Siswanto Kepala SKK Migas, menegaskan berbagai manuver percepatan mau tidak mau harus dilakukan SKK Migas untuk membantu para KKKS merealisasikan target – target program produksi maupun pencarian cadangan migas ditengah terus meningkatnya kebutuhan energi.

Dia menuturkan beberapa indikator yang menunjukkan kesuksesan transformasi SKK Migas antara lain produksi minyak dari puluhan ribu Sumur Masyarakat yang dulu dianggap “musuh” dan Ilegal kini justru jadi salah satu strategi pemerintah dalam mendongkrak produksi migas.

Dalam beberapa tahun terakhir, SKK Migas terlihat begitu agresif dalam mengejar dan mengawal temuan cadangan migas oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) misalnya di wilayah Andaman seperti Andaman 1, Andaman 2 serta di South Andaman. Kemudian temuan di wilayah Kutai Basin seperti di Lapangan Geliga.

Peningkatan produksi melalui Enhanced Oil Recovery (EOR) yang tumbuh dan berkembang menunjukan gigi taringnya dimana chemical EOR kini sudah mulai diimplementasikan dalam skala yang jauh lebih besar dari sekedar pilot project di blok Rokan tepatnya di Lapangan Minas serta di blok Offshore South East Sumatera (OSES).

Percepatan proyek-proyek strategis sebut saja Indonesia Deep Water Development (IDD), Lapangan Asap Kido Merah (AKM) di Balok Kasuri, proyek Carbon Capture Storage (CCS) Ubadari serta tentu saja Proyek Abadi Masela.

“Lalu ada kegiatan Seismik 11.000 km terpanjang sepanjang sejarah sedang berlangsung di perairan Kalimantan Timur,” ungkap Djoko pada Sabtu (18/7).

Pipa WNTS yang sudah lebih dari 1 dekade tidak terbangun akhirnya terbangun. Proyek Migas Non Konvensional (MNK) yang sudah bertahun-tahun hanya menjadi wacana kini sudah teralisasi dengan telah Persetujuan Plan of Development (POD) MNK (Minyak dan Gas Non-Konvensional) Dart Energy berpusat pada pengembangan lapangan gas metana batubara (CBM) di Wilayah Kerja (WK) Tanjung Enim (Area A dan B), Sumatra Selatan. Proyek ini menjadi tonggak sejarah baru sebagai komersialisasi migas non-konvensional pertama di Indonesia.

Selain itu juga sudah diambang untuk segera mendapatkan persetujuan rencana pengembangan dengan temuan potensi cadangan MNK yang sangat besar di Blok Rokan. Indonesia juga bersiap menyambut Floating LNG (FLNG) terbesar pertama di Indonesia dan No.9 terbesar di Dunia untuk proyek gas di Blok Kasuri.

“Termasuk kondensat hilir dan produksi LPG menjadi bagian dari target lifting migas yang terwujud. Pabrik-pabrik Mini LNG dan LPG terbangun dan onstream. Swab gas LNG dan Gas Pipa Natuna serta penarikan komitmen ekspor LNG untuk dalam negeri pun dapat terjadi demi ketersediaan gas untuk dalam negeri khususnya untuk industri di Sumatera, Batam dan Jawa,” jelas Djoko.

Dimulainya Proyek Abadi Masela menjadi simbol bahwa penantian panjang akhirnya berbuah kepastian. Di tengah tantangan transisi energi global, Indonesia justru menunjukkan bahwa sektor hulu migas masih menjadi fondasi penting ketahanan energi sekaligus motor pertumbuhan ekonomi. Jika selama dua dekade terakhir SKK Migas dikenal karena kemampuannya menjaga industri tetap bertahan, maka satu dekade ke depan akan menjadi ujian sekaligus pembuktian bahwa lembaga ini mampu membawa Indonesia memasuki era baru kejayaan hulu migas. Momentum kebangkitan itu kini telah dimulai, dan jejak sejarahnya ditorehkan dari Kepulauan Tanimbar.