JAKARTA – Pemerintah mengklaim Indonesia saat ini jadi salah satu pionir dan terdepan untuk urusan penggunaan bahan bakar nabati. Implementasi mandatori campuran 50% biodiesel dengan solar (B50) yang resmi diluncurkan pada Juli lalu, Indonesia jadi negara paling unggul jauh di atas negara-negara tetangga hingga negara eropa.

Eniya Listiyani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM mengungkapkan implementasi biodiesel di Indonesia saat ini berada jauh di atas rata-rata global. Jika dibandingkan dengan tetangga yakni Malaysia saja Indonesia jauh lebih unggul.

“Kalau kita bandingkan ya, Malaysia itu baru saja mengumumkan B20, sebelumnya B15 terus bertahun-tahun,” ujar Eniya dalam pembukaan The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Rabu (2/9).

Bukan hanya Malaysia, Eniya bahkan berani menyandingkan implementasi biodiesel di Indonesia dengan sejumlah negara eropa. Dia menyebut negara-negara Benua Biru secara rata-rata hanya menerapkan bauran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebesar 7% di saat Indonesia bisa memastikan keamanan mesin kendaraan menggunakan bahan bakar B50.

“Lalu di Eropa itu 7% FAME yang dipakai dan kita lihat di beberapa negara lain 10% rata-rata. Nah ini menunjukkan bahwa kita menjadi pionir dan sekarang menjadi rujukan,” ungkap Eniya.

Berkat implementasi B50, saat ini FAME yang menjadi bahan baku produk tersebut memegang porsi yang paling kuat dari keseluruhan bauran energi baru dan terbarukan (EBT). Dari keseluruhan bauran energi, FAME memakan porsi sekitar 5,01%, di atas pembangkit listrik tenaga bioenergi 4,19%, PLTA 2,69%, PLTP 1,84%, atau bahkan PLTS yang baru di angka 0,51%.

Indonesia sendiri kini menjadi salah satu rujuan bagi negara-negara lain yang ingin mengimplementasikan campuran biodiesel dengan solar.

“Jadi kemarin selama enam bulan, teman-teman di bioenergi membuktikan road test bersama. Jadi kita buka datanya ke masyarakat untuk bisa tahu bagaimana performanya. Nah sama-sama ayo kita jaga untuk kemandirian di bidang BBM ini,” kata Eniya.

Implementasi B50 juga dijadikan pemerintah sebagai instrumen utama menekan ketergantungan impor solar, utamanya untuk solar dengan tingkat Cetane (CN) 48.

Eniya mengungkapkan kemandirian energi itulah yang memegang peran penting di tengah ketidakpastian geopolitik global. Rantai pasok energi fosil, lanjutnya, kerap terganggu oleh kondisi geopolitik, seperti tragedi perang di Timur Tengah yang mengerek rerata harga minyak mentah dunia.

“Target B50 ini bisa menyetop impor solar kita CN 48. CN 48 dan CN 51 itu ada jenis solarnya, yang tidak diimpor adalah CN 48. Jadi kita sudah bisa mandiri dari impor CN 48,” tegas Eniya.