JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bauran energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional hingga semester I 2026 baru mencapai 17,3%. Angka tersebut masih sesuai target pemerintah yang menargetkan bauran EBT yakni 17% – 21%. Sebenarnya pada Triwulan I tahun ini bauran EBT sempat menyentuh 18%.
Eniya Listiyani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM mengatakan, capaian bauran EBT tersebut sempat berada di level 18,3% pada kuartal I 2026.
“Kalau kita melihat dari capaian energi mix nasional itu baru mencapai 17,3% di semester ini. Jadi kami update kemarin di triwulan 1 sempat mencapai 18,3%,” kata Eniya disela pembukaan The 12th Indonesia EBT Conex 2026 di JIEXPO Kemayoran, Rabu (2/9).
Menurut Eniya, bauran energi nasional saat ini masih didominasi oleh energi fosil, terutama batu bara dan minyak bumi. Pemerintah menargetkan bauran EBT berada pada kisaran 17%-21% sesuai rancangan strategis nasional. “Dan saat ini kita mempunyai target 17-21% di Bappenas. Jadi secara rancangan strategis nasionalnya itu harus dicapai kalau bisa sampai 21%,” kata Eniya.
Dari sisi kapasitas terpasang peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kapasitas EBT yang sebelumnya sekitar 12 gigawatt (GW) pada 2021 terus meningkat hingga mencapai 16,32 GW saat ini.
“Nah ini target-target ini kalau kita melihat capaian kapasitas terpasang itu naik. Dari sejak 2021 12 HW naik ke 13 GW, 13,7 GW lalu 14,8 GW dan seterusnya sampai sekarang 16,32 GW,” tuturnya.
Menurut dia, peningkatan kapasitas terpasang menunjukkan investasi di sektor EBT terus tumbuh. Namun, laju pertumbuhan investasi tersebut masih perlu ditingkatkan.
“Dan ini menunjukkan investasi memang naik tetapi masih tergolong landai,” ujar Eniya.
Dia menekankan perlunya percepatan untuk mengejar target bauran energi yang telah ditetapkan dalam berbagai dokumen perencanaan energi nasional.
“Nah ini hal yang pasti kita perlu perhatikan sehingga bagaimana cara mencapai sesuai Renstra yang sudah dikeluarkan oleh Dewan Energi Nasional. Lalu Rancangan Umum Ketenagalistrikan Nasional, Rancangan Umum Energi Nasional. Itu semua harus dicapai dengan capaian hingga tahun 2034 kita targetkan 30% bauran energi mix nasional untuk EBT,” jelasnya.
Bioenergi Dominan
Eniya menjelaskan, bauran EBT sebesar 17,3% tersebut berasal dari sektor listrik dan nonlistrik. Kedua sektor tersebut menjadi sumber utama dalam penghitungan bauran energi terbarukan nasional. Untuk sektor pembangkit listrik, pembangkit listrik tenaga bioenergi memiliki kontribusi sebesar 4,19%, disusul pembangkit listrik tenaga air sebesar 2,69%, panas bumi 1,84%, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 0,51%, dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) 0,06%.
Sementara dari sektor nonlistrik, pemanfaatan FAME biodiesel memberikan kontribusi terbesar dengan 5,01%, sedangkan biomassa mencapai 2,82%.
Dengan komposisi tersebut, Eniya menilai bioenergi masih menjadi sumber EBT dengan kontribusi terbesar dalam bauran energi nasional. “Kalau kita perhatikan di sini ini yang paling besar adalah bio. Jadi sumber energi di Indonesia yang paling mempunyai share terbanyak adalah bio energi,” ujarnya.
Di sisi lain, kontribusi PLTS masih relatif kecil. Karena itu, pemerintah pada tahun ini terus meluncurkan berbagai program dan menyederhanakan regulasi untuk mendorong pengembangan energi surya serta meningkatkan investasi di sektor tersebut. “Dan di sini kalau kita lihat PLTS masih sangat kecil sehingga dalam tahun ini berbagai program kita luncurkan, berbagai regulasi kita singkatkan untuk bagaimana kemudahan investasi ekosistemnya itu bisa terfasilitasi dengan baik,” kata Eniya.





Komentar Terbaru