JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengumumkan keberhasilan tajak (spud) Sumur Eksplorasi Laba Laba-1 di wilayah Offshore Natuna Barat. Sumur ini menjadi pembuka kampanye pengeboran eksplorasi tiga sumur yang diharapkan mampu menambah cadangan gas nasional hingga 226 miliar kaki kubik (BCF).
Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, mengatakan pengeboran Sumur Laba Laba-1 merupakan langkah strategis untuk memperkuat upaya penemuan cadangan migas baru sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
“Alhamdulillah, pada 30 Juli 2026 pukul 02.20 WIB telah berhasil dilakukan tajak (spud) Sumur Eksplorasi Laba Laba-1 yang berlokasi di Offshore Natuna Barat menggunakan Rig Admarine 502. Sumur ini dioperasikan oleh operator baru Prime Natuna EP setelah mengakuisisi Premier Oil Natuna Sea pada 28 Mei 2026,” ujar Djoko dalam keterangannya kepada Dunia Energi, Jumat (31/7).
Sumur Laba Laba-1 menargetkan reservoir utama Sandstone Upper Arang (UA Aa-8), play yang sama dengan reservoir di Lapangan Pelikan, Naga, dan Iguana yang secara kumulatif telah memproduksi sekitar 578 BCF gas berdasarkan data ESDC 2025.
Djoko menjelaskan reservoir diperkirakan berada pada kedalaman 4.298 kaki TVDSS, sementara pengeboran direncanakan mencapai Total Depth 5.597 kaki TVDSS. Berdasarkan hasil evaluasi geologi dan geofisika, sumur ini diproyeksikan memiliki potensi sumber daya terambil (recoverable resource) sebesar 45 BCF dry gas.
Dia menuturkan, Laba Laba-1 merupakan sumur pertama dalam rangkaian pengeboran eksplorasi yang akan dilanjutkan dengan pengeboran Bekantan-1 dan Tenggiling South-1. Ketiga sumur tersebut diperkirakan memiliki total potensi sumber daya terambil mencapai 226 BCF gas.
“Seluruh rangkaian pengeboran ditargetkan selesai pada November 2026 sebelum memasuki periode monsun,” katanya.
Menurut Djoko, Sumur Laba Laba-1 dan Bekantan-1 merupakan bagian dari program near field exploration yang dirancang agar dapat segera dikembangkan. Targetnya, kedua prospek tersebut dapat memasuki tahap Plan of Development (POD) pada 2027 dan mulai berproduksi pada 2028 atau bahkan lebih cepat.
Produksi awal diperkirakan mencapai 23 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD) dengan memanfaatkan fasilitas produksi terdekat di Naga Field yang berjarak sekitar 15 kilometer, sehingga pengembangan dapat dilakukan lebih efisien melalui optimalisasi infrastruktur yang telah tersedia.
Djoko berharap seluruh kegiatan pengeboran dapat berlangsung dengan aman dan memberikan hasil sesuai harapan.
“Kami mohon doa dan dukungan agar kegiatan pengeboran berjalan aman, lancar, tanpa kecelakaan, serta memberikan hasil terbaik untuk mendukung penemuan cadangan migas baru dan peningkatan ketahanan energi nasional,” tutupnya. (RI)


Komentar Terbaru