ULAN BATOR – Rio Tinto menyepakati ketentuan keuangan baru untuk tambang tembaga Oyu Tolgoi senilai US$18 miliar di Mongolia. Kesepakatan dicapai setelah negosiasi berbulan-bulan di tengah lonjakan harga tembaga dan tekanan politik dari pemerintah setempat.

Perusahaan tambang asal London itu setuju memangkas biaya manajemen proyek di Gurun Gobi sebesar 50 persen. Rio juga menurunkan suku bunga pinjaman bernilai miliaran dolar kepada Mongolia sebesar 2,5 poin persentase.

“Kesepakatan ini menunjukkan Mongolia dapat melindungi kedaulatan keuangan kami sembari mempertahankan lingkungan yang sangat menguntungkan bagi modal global,” ujar Perdana Menteri Mongolia Uchral Nyam-Osor dalam pernyataan setelah penandatanganan bersama Ketua Rio Tinto Dominic Barton dan kepala divisi tembaga Katie Jackson, dikutip dari Financial Times (30/6).

Negosiasi berlangsung setelah pejabat Mongolia menyebut ketentuan sebelumnya “tidak adil” dan menyatakan negara itu “sedang ditipu”. Kesepakatan damai ini muncul empat tahun setelah Rio menghapus utang pemerintah sekitar US$2,4 miliar.

Katie Jackson menyebut penurunan suku bunga mencerminkan risiko yang lebih rendah seiring proyek semakin matang. “Kesepakatan itu menunjukkan komitmen berkelanjutan Rio Tinto terhadap keberhasilan jangka panjang Oyu Tolgoi,” katanya.

Target Produksi 500.000 Ton Tembaga per Tahun
Oyu Tolgoi merupakan proyek pertambangan dan investasi asing terbesar di Mongolia. Tambang itu diperkirakan memproduksi sekitar 500.000 ton tembaga setiap tahun. Logam merah tersebut permintaannya tinggi karena perannya dalam transisi energi, di saat harga tembaga mendekati rekor tertinggi.

Kendati demikian, sejumlah persoalan belum selesai. Salah satunya soal dividen. Pemerintah Mongolia memegang 34 persen saham Oyu Tolgoi, sedangkan Rio 66 persen. Akibat pembengkakan biaya dan penundaan, perkiraan pembayaran dividen mundur dari 2017 menjadi sekitar 2037. Rio menyatakan akan “memajukan distribusi kepada pemegang saham” tanpa menyebut tanggal pasti.

Ketegangan juga sempat terjadi dua pekan lalu. Para pengunjuk rasa mengganggu ekspor dan memaksa penghentian pengiriman konsentrat dari lokasi proyek selama hampir satu hari. Pemerintah Mongolia menolak berkomentar terkait kesepakatan baru ini.(RA)