JAKARTA — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan seluruh izin ekspor minyak mentah dan kondensat telah efektif dibekukan per tanggal 1 Mei 2026. Kebijakan ini diikuti dengan langkah pengalihan kargo ekspor ke pasar domestik.

“Izin melaporkan update terkait crude oil lifting: Status per 1 Mei 2026 Jam 00.00 WIB, bahwa seluruh perijinan ekspor minyak mentah dan kondensat telah efektif dibekukan,” ujar Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas dalam keterangannya, Sabtu (2/5).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kargo ekspor terdekat dari lapangan Banyu Urip tengah dalam proses penyesuaian. “Kargo ex export terdekat Minyak Mentah Banyu Urip (milik BKS) ALD 5-6 Mei 2026, dalam proses negosiasi dengan PT PPN dan hampir final (tinggal menunggu simulasi ketersediaan kapal),” ungkap Djoko.

SKK Migas kata Djoko akan mendukung perubahan jadwal penggunaan kapal agar kargo minyak mentah yang semula untuk ekspor bisa dikirim untuk ke kilang dalam negeri sesegera mungkin.

“Bagian negara mundur ke sekitar tanggal 10-11 Mei 2026 dengan tetap memperhatikan kondisi operasional yang aman dan sesuai ketentuan yang berlaku,” jelasnya.

Djoko juga memastikan bahwa realisasi lifting ekspor terakhir pada April berjalan sesuai rencana tanpa kendala lintas bulan yang sebelumnya dikhawatirkan. “Lifting export terakhir di April adalah Grissik Mix 29-30 April 2026, telah clear and clean, kapal sail out 30 April 2026, sesuai target. Tidak ada kargo export crossing month yang selama ini di khawatirkan pada rapat lintas Kementerian,” ungkapnya.

Menurut Djoko dengan tidak adanya minyak mentah bagian kontraktor yang diekspor semakin membuktikan bahwa pada dasarnya minyak bumi yang diproduksi di tanah air bisa diolah di dalam negeri. Hal itu tentu memtahkan narasi yang selama ini digaungkan oknum tidak bertanggung jawab yang menyatakan tidak semua minyak di Indonesia bisa diolah kilang dalam negeri.

“Minyak sama sama keluar dari sumur yang sama , reservoar yang sama kok yang bagian negara bisa diolah yang bagian kontraktor nggak bisa katanya specnya beda  semoga dgn tidak ada lagi bagian kontraktor yg di ekspor,” tegas Djoko. (RI)