JAKARTA– PT PLN (Persero) mempercepat adaptasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) agar mampu menggunakan batu bara berkalori rendah. Langkah ini dilakukan sebagai strategi menjaga keandalan pasokan listrik di tengah semakin terbatasnya ketersediaan batu bara berkalori menengah hingga tinggi, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pasokan energi setelah terjadinya pemadaman bergilir di sejumlah wilayah Jawa beberapa pekan lalu.

Darmawan Prasodjo, Direktur Utama PLN, mengatakan tren produksi batu bara dengan kalori di atas 4.500 kkal/kg terus menurun, sementara produksi batu bara berkalori rendah justru semakin meningkat. Kondisi tersebut mendorong PLN melakukan penyesuaian teknologi pada pembangkit dan melakukan retrofit proses memasang komponen atau teknologi baru yang lebih modern pada sistem, mesin pembangkit listrik.

“Produksi batu bara dengan kalori 4.500 ke atas semakin hari semakin menipis. Sedangkan produksi batu bara dengan kalori rendah semakin hari semakin membesar. Untuk itu kami melakukan adjustment terhadap pembangkit-pembangkit kami,” ujar Darmawan dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Kamis (2/7).

Menurutnya, salah satu langkah yang telah berhasil dilakukan adalah retrofit pada PLTU Suralaya Unit 6 dan 7 dengan melakukan modifikasi pada sistem penggilingan batu bara (mill).

“Dengan mengubah mill, PLTU Suralaya 6 dan 7 yang sebelumnya menggunakan batu bara dengan kalori menengah ke atas kini dapat menggunakan low rank coal dengan kalori sekitar 4.100 hingga 4.300, dari sebelumnya 4.600 sampai 4.800,” katanya.

Keberhasilan tersebut, lanjut Darmawan, menjadi dasar bagi PLN untuk memperluas program retrofit ke pembangkit lainnya. “Suksesnya retrofit di Suralaya 6 dan 7 saat ini langsung kami tindak lanjuti dengan kajian kelayakan proyek di seluruh pembangkit PLN,” ujarnya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari evaluasi PLN setelah sistem kelistrikan Jawa mengalami gangguan beberapa pekan lalu yang memicu pemadaman bergilir di sejumlah daerah. Saat itu, pasokan batu bara dengan spesifikasi yang dibutuhkan sejumlah PLTU menjadi salah satu tantangan operasional yang harus segera diatasi.