JAKARTA – Program konversi kompor listrik kembali akan digulirkan oleh pemerintah. Padahal program tersebut sempat mandeg beberapa tahun lalu. Rencananya progam tersebut akan kembali dimulai untuk tahun 2027 mendatang.
Jumlah anggaran yang diusulkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sendiri mencapai RP815,56 miliar.
Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, menegaskan kompor listrik yang akan diberikan ke pada masyarakat dengan tegangan listrik di rumahnya maksimal 900 KVA. Sehingga masyarakat golongan miskin atau yang biasa menggunakan LPG subsidi bisa beralih. “Nah ini sebagai tahap awal karena ada beberapa model kompor listrik yang sekarang kita mintanya itu di sekitar di bawah 900 KVA.
Supaya rakyat kita yang di daerah-daerah yang di kecamatan, di desa itu bisa dipakai dengan listrik kapasitas daya mereka yang ada,” jelas Bahlil di rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI, Senin (15/6).
Pemerintah kata Bahlil sengaja kembali inisiasi program kompor listrik karena adanya proyeksi peningkatan jumlah subsidi dari tahun ke tahun. Apalagi harga LPG di pasaran internasional mengikut pergerakan ICP yang dipengaruhi harga minyak dunia. Jika harga minyak dunia meningkat maka jumlah ongkos subsidi yang harus dikeluarkan negara juga membengkak.
“Kita akan tahu bahwa LPG itu 80% kita impor. Dan devisa kita setiap tahun keluar untuk LPG di atas Rp130 triliun. Saya ulangi, di saat ICP seperti ini, harga devisa kita keluar untuk membeli LPG itu sekitar di atas Rp130 triliun. Subsidinya di atas Rp80 triliun,” jelas Bahlil.
Bahlil sendiri optimistis program kompor listrik kali ini bakal lebih diterima oleh masyarakat lantaran teknologi yang dipilih nantinya juga akan bisa diaplikasikan oleh berbagai lapisan masyarakat. Tidak seperti sebelumnya yang harus diakui masih belum semua masyarakat bisa menggunakan.
“Ada model kompor listrik yang model baru. Jadi memang semakin ke sini ada teknologi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknologi kompor listrik yang lama,” ungkap.



Komentar Terbaru