JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) terus berupaya mempercepat hilirisasi riset mineral sesuai kebutuhan industri nasional. Pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) dinilai penting dalam mendukung ketahanan nasional, khususnya pada sektor energi, teknologi maju, dan industri strategis.

Dalam pertemuan bersama PT Perminas (Persero), BRIN membahas pelaksanaan Witness Preliminary Metallurgical Test sampel LTJ yang ada di Indonesia. Di samping itu juga penjajakan peluang kerja sama dalam pengembangan teknologi pengolahan dan pemanfaatan logam tanah jarang di Indonesia, dilaksanakan di KST. Iskandar Zulkarnain Lampung Selatan, Rabu (6/5).

Kepala PRTM BRIN Fajar Nurjaman menyampaikan, sinergi antara lembaga riset dan industri menjadi faktor penting dalam mempercepat pemanfaatan hasil penelitian menjadi inovasi yang aplikatif.

Ia menegaskan BRIN membuka peluang kolaborasi dengan Perminas, baik melalui pemanfaatan fasilitas laboratorium maupun kerja sama riset teknologi mineral. Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung kemajuan industri mineral di Indonesia.

Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis Perminas, La Ode Tarfin Jaya, menegaskan komitmen perusahaan dalam pengelolaan mineral kritis dan strategis guna memperkuat kedaulatan sumber daya nasional, melalui pengembangan LTJ, radioaktif, dan mineral strategis pendukung industri pertahanan.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan kemitraan strategis, baik nasional maupun internasional. Hal ini untuk mempercepat pengembangan riset mineral kritis dan strategis, khususnya LTJ, agar Indonesia mampu bersaing dengan negara lain yang lebih maju dalam pengembangan mineral.

Perminas juga memperkuat aspek legal melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS). Guna mendukung percepatan riset dari skala laboratorium menuju pilot plant, demo plant, hingga tahap industrialisasi.

Melalui kolaborasi ini, BRIN dan Perminas diharapkan dapat mendukung pengembangan teknologi. Selain itu juga dalam peningkatan nilai tambah mineral dalam negeri guna memperkuat kemandirian industri nasional.(RA)