JAKARTA – Pemerintah mengklaim pembelian minyak mentah dari Rusia akan terealisasi paling tidak dua pekan lagi. Dari sisi prinsip kedua negara dan diikuti oleh Pertamina sudah mendapatkan lampu hijau untuk mendatangkan minyak mentah guna diolah kilang dalam negeri.

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan secara kontraktual sudah tidak ada masalah. Kini hanya tinggal masalah teknis di lapangan terkait metode atau teknis pengiriman. “Secara deal sudah, kontrak sudah, sekarang bicara tentang teknik pengirimannya,” kata Bahlil ditemui di Kementerian ESDM, Senin (11/5).

Menurut Bahlil dari informasi terakhir, pembahasan teknis pengiriman masih butuh waktu beberapa hari ke depan. “Dan mungkin 1-2 minggu ini sudah bisa (dikirim),” ungkap Bahlil.

Pemerintah sebelumnya telah menyepakati skema antar pemerintah Government to Government atau G2G maupun business-to-business (B2B), yang diharapkan dapat memberikan kepastian terhadap ketersediaan cadangan energi nasional, khususnya untuk minyak mentah dan LPG di Indonesia.

Indonesia terbuka untuk memperluas ruang kolaborasi dengan Rusia, termasuk pada pengembangan storage crude, pasokan jangka panjang minyak mentah dan LPG, penjajakan nuklir, serta kerja sama di sektor mineral. “Kita ingin semua ini betul-betul memberi kepastian bagi ketahanan energi nasional,” tegas Bahlil.

Sebelumnya Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM sempat membeberkan volume minyak mentah yang akan dibawa dari Rusia mencapai 150 juta barel yang akan dikirim secara bertahap.

“Telah disepakati bahwa total volume minyak mentah yang akan kita impor dari Rusia sekitar 150 juta barrel untuk memenuhi kebutuhan kita hingga akhir tahun,” kata Yuliot. (RI)