JAKARTA – Pemerintah menegaskan tidak ada kesepakatan bilateral  atau antar negara terkait jual beli nikel ore dengan Filipina. Kalaupun ada jual beli yang terjadi sifatnya langsung antar para pelaku usaha.

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengungkapkan dalam KTT ASEAN yang baru saja selesai diselenggarakan, tidak ada pembicaraan khusus dengan pemerintah Filipina untuk jual beli nikel.

“Yang ada itu adalah B2B antara teman-teman pengusaha yang ada di Indonesia dengan teman-teman pengusaha yang ada di Filipina. Tapi tidak dimasukkan dalam bagian pembicaraan antar negara. Jadi tidak ada,” kata Bahlil saat konferensi pers di Kementerian ESDM, Senin (11/5).

Menurut Bahlil wajar para pelaku usaha Filipina mengincar kerjasama dengan pelaku usaha tanah air pasalnya di Indonesia sudah terbangun industri nikel mulai dari hulu hingga ke hilir. “Dan Filipina itu kan dia tidak mempunyai industri nikel, tapi dia mempunyai bahan baku.
Total cadangan nikel di dunia kita itu kan 43%. Dan Filipina itu kurang lebih sekitar 15-20%. Jadi akumulasi Filipina sama Indonesia itu di atas 60% kalau diakumulasikan,” jelas Bahlil.

Indonesia memang telah melakukan impor bijih nikel untuk memenuhi kebutuhan smelter domestik yang terus meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor bijih nikel Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 15,84 juta ton, dengan sekitar 97% atau 15,33 juta ton berasal dari Filipina.

Sementara itu, produksi nikel Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 2,6 juta metrik ton atau setara dengan sekitar 67% dari total produksi nikel dunia. Dominasi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia sekaligus pemain kunci dalam menentukan keseimbangan pasokan global.

Dari sisi ekspor, nikel dan produk turunannya menjadi salah satu penyumbang utama kinerja perdagangan Indonesia. Data BPS menunjukkan produk berbasis nikel masuk dalam kelompok komoditas utama penyumbang surplus ekspor nasional pada 2025.

Dengan cadangan sekitar 23% dari total dunia dan kontribusi besar terhadap produksi global, Indonesia memiliki pengaruh signifikan dalam menentukan arah pasar nikel internasional, termasuk harga dan ketersediaan pasokan.

Meski demikian, meningkatnya kapasitas smelter dalam negeri membuat kebutuhan bahan baku ikut melonjak, sehingga impor tetap dilakukan sebagai bagian dari strategi menjaga kesinambungan industri. (RI)