JAKARTA — Pemerintah menegaskan bahwa Indonesia terus mendorong pengembangan ekosistem industri baterai berbasis nikel secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Posisi Indonesia dinilai strategis karena tidak semua negara di Asia Tenggara memiliki rantai industri baterai yang lengkap.
“Nikel adalah salah satu komoditas energi yang bisa dikonversi untuk menjadi baterai. Nah, kebetulan di Asia Tenggara, yang punya pabrik ekosistem baterai dan hulu sampai hilir itu tidak semua negara punya. Indonesia salah satu yang sedang mengembangkan itu,” ujar Bahlil ditemui di Kementerian ESDM usai melantik pejabat eselon II di Kementerian ESDM, Rabu (6/5).
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan terbang ke Manila, Filipina untuk menghaditi KTT ASEAN. Namun salah satu agenda juga menyangkut kerjasama jual beli nikel.
Di tengah kampanye untuk memanfaatkan sumber daya alam untuk penguatan hilirisasi, pemerintah justru tetap membuka peluang kerja sama pasokan bahan baku nikel dalam skema business-to-business (B-to-B) guna menjaga keberlanjutan industri dalam negeri. Indonesia kata Bahlil justru membuka diri untuk nikel masuk ke industri dalam negeri.
“Terkait dengan nikel, Indonesia membuka diri saja. Jadi, itu enggak ada masalah sebenarnya. Secara B-to-B (business-to-business), toh industri kita kan banyak. Tetapi, bukan berarti kerja sama untuk kita melakukan investasi di sana. Tapi mereka mungkin bisa menyuplai kalau kita kekurangan. Kalau kita kekurangan bahan bakunya, bisa disuplai dari mana saja. Jadi tidak ada isu kerja sama yang lebih teknis spesifik itu, enggak ada, ya,” jelasnya.
Sebagai negara yang mengaku kaya akan nikel, Indonesia justru melakukan impor bijih nikel untuk memenuhi kebutuhan smelter domestik yang terus meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor bijih nikel Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 15,84 juta ton, dengan sekitar 97% atau 15,33 juta ton berasal dari Filipina.
Sementara itu, produksi nikel Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 2,6 juta metrik ton atau setara dengan sekitar 67% dari total produksi nikel dunia. Dominasi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia sekaligus pemain kunci dalam menentukan keseimbangan pasokan global.
Dari sisi ekspor, nikel dan produk turunannya menjadi salah satu penyumbang utama kinerja perdagangan Indonesia. Data BPS menunjukkan produk berbasis nikel masuk dalam kelompok komoditas utama penyumbang surplus ekspor nasional pada 2025.
Dengan cadangan sekitar 23% dari total dunia dan kontribusi besar terhadap produksi global, Indonesia memiliki pengaruh signifikan dalam menentukan arah pasar nikel internasional, termasuk harga dan ketersediaan pasokan.
Meski demikian, meningkatnya kapasitas smelter dalam negeri membuat kebutuhan bahan baku ikut melonjak, sehingga impor tetap dilakukan sebagai bagian dari strategi menjaga kesinambungan industri.
Cadangan nikel Indonesia merupakan yang terbesar di dunia dan menjadi salah satu faktor utama dominasi Indonesia dalam industri nikel global.
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) tahun 2026, cadangan nikel Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 62 juta metrik ton, tertinggi dibanding negara lain.
Jika dibandingkan secara global, Indonesia menguasai sekitar 40%–45% cadangan nikel dunia, bahkan dalam beberapa pernyataan pemerintah angkanya bisa mencapai sekitar 43% dari total cadangan global.
Selain itu, dari sisi sumber daya (resource), total potensi bijih nikel Indonesia jauh lebih besar. Data Kementerian ESDM menunjukkan cadangan bijih nikel mencapai lebih dari 5,9 miliar ton, yang tersebar terutama di Sulawesi dan Maluku Utara. (RI)



Komentar Terbaru