JAKARTA – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada periode Kuartal I 2026 membukukan kenaikan pendapatan sebesar 10% dan peningkatan laba bersih sebesar 22%. BRMS mencatatkan pendapatan sebesar US$ 69 juta, laba operasi sebesar US$ 28 juta, dan laba bersih sebesar US$ 18 juta.

Charles Gobel, Direktur & Chief Financial Officer BRMS, mengatakan produksi emas dan perak mengalami penurunan pada Kuartal I 2026, karena operasi pushback yang berlangsung di lokasi tambang terbuka River Reef (Poboya, Palu). “Namun demikian, kami tetap dapat membukukan kinerja keuangan yang semakin membaik dikarenakan harga jual emas dan perak kami yang semakin meningkat pada periode yang sama,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis(30/4).

Damar Kusumanto, Direktur Utama PT Citra Palu Minerals (CP), anak usaha BRMS, menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengantisipasi penurunan kadar emas dalam bijih yang diproses di awal tahun 2026 dikarenakan operasi pushback yang sedang berlangsung. Operasi pushback tersebut diharapkan dapat selesai pada akhir Mei atau awal Juni 2026.

Setelah pushback berakhir, CPM dapat
mulai menambang bijih berkadar tinggi pada lokasi bukaan baru di Juni 2026. Salah satu dari pabrik emas CPM juga tengah menjalani proses peningkatan kapasitas dari 500 menjadi 2.000 ton bijih per hari, yang akan diselesaikan di Oktober 2026. “Kami menargetkan produksi dan penjualan di sekitar 80.000 troy ounce emas pada tahun 2026,” ujar Damar.

Agus Projosasmito, Direktur Utama & Chief Executive Officer BRMS, berharap dapat menyelesaikan peningkatan kapasitas salah satu pabrik emas dari 500 menjadi 2.000 ton bijih per hari di bulan Oktober 2026. Ini akan meningkatkan produksi emas BRMS di tahun 2026.

“Kami menargetkan untuk dapat mulai melakukan penambangan bijih berkadar emas tinggi (3,5 – 4,9 g/t) dari Lokasi tambang bawah tanah di Q3 2027. Hal ini juga akan meningkatkan produksi emas BRMS di tahun 2027 dan 2028,” ujar Agus.(RA)