JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membantah adanya kekurangan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik yang ramai dibicarakan lantaran disebut-sebut sebagai penyebab utama pemadaman listrik bergilir yang terjadi di berbagai wilayah di Jawa.

Ahmar Erani Yustika, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, mengungkapkan jatah batu bara untuk pembangkit PLN sudah diputuskan sejak awal tahun. Sehingga seharusnya tidak ada masalah kekurangan pasokan.

“Secara umum sih nggak ada (kekurangan pasokan batu bara), seharusnya nggak ada. Kan sudah sejak awal sudah diputuskan berapa kebutuhan PLN batu bara-nya,” ungkap Erani ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (12/6).

Tidak sedikit kalangan yang khawatir isu kekurangan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik benar terjadi. Berdasarkan informasi yang diterima Dunia Energi, memang kondisi pasokan batu bara jadi salah satu faktor yang sebabkan PLN melakukan pemadaman bergilir. Bahkan informasi berseliweran bahwa wilayah Jawa diambang black out atau mati listrik serentak.

Kondisi kekurangan pasokan batu bara sempat terjadi pada akhir tahun 2021 lalu. Kala itu bahkan pemerintah mengeluarkan kebijakan darurat dan sangat tegas yakni pelarangan ekspor batu bara selama bulan Januari 2022. Ciri-ciri kondisi yang terjadi pada 2022 lalu sama seperti yang terjadi sekarang yakni disparitas harga yang tinggi antara harga pasaran dan harga domestik atau DMO untuk pembangkit.

Harga batu bara di pasaran internasional sudah menyentuh angka US$150an per ton pada hari ini. Sementara untuk pembangkit listrik dipatok maksimal US$70 per ton. Sementara saat tahun 2022 lalu harga batu bara internasional tembus dikisaran US$280 per ton.

Erani optimistis kondisi sepereti tahun 2022 tidak akan sampai terjadi kali ini karena persiapan pemerintah diklaim lebih matang. “Nggak Insyaallah nggak. Pak Menteri kemarin kan sudah menyampaikan pernyataan kan,” tegas Erani. (RI)