JAKARTA – Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dwi Susilaningsih, mengembangkan teknologi produksi biohidrogen menggunakan biomassa dan agen mikroba melalui proses fermentasi.
Menurut Dwi, teknologi tersebut tidak dirancang sebagai sumber energi yang berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem energi terintegrasi yang memanfaatkan berbagai sumber energi terbarukan.
“Targetnya adalah wilayah pesisir atau pulau-pulau kecil yang masih kekurangan energi. Hidrogen dapat memperkuat sistem energi yang sudah ada melalui pemanfaatan berbagai sumber energi terbarukan,” jelasnya, dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Centre (JCC), Kamis (23/7). Dalam rangkaian gelaran GHES 2026 di JCC, 21–23 Juli 2026, para peneliti BRIN memaparkan berbagai hasil riset yang menunjukkan potensi hidrogen sebagai bagian dari sistem energi terbarukan Indonesia.
Dwi mengatakan panas yang dihasilkan selama proses produksi hidrogen juga berpotensi dimanfaatkan untuk desalinasi air laut. Dengan demikian, satu sistem dapat menyediakan energi sekaligus air bersih bagi masyarakat kepulauan.
Meski hasil penelitian di laboratorium menunjukkan prospek yang menjanjikan, Dwi mengakui tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan skala teknologi menuju tahap pilot plant dan implementasi industri.
“Kalau di laboratorium fotofermentasi dan dark fermentation sudah selesai. Sekarang tantangannya masuk ke pilot plant, apakah hasilnya akan tetap sama seperti di laboratorium,” katanya.
Menurutnya, belum ada jaminan bahwa sistem yang berhasil menghasilkan hidrogen dalam skala laboratorium akan memberikan performa serupa ketika diperbesar hingga skala industri. Karena itu, kolaborasi dengan sektor industri menjadi kebutuhan penting untuk mempercepat hilirisasi teknologi.
“Kami mengundang industri maupun para pengguna hidrogen untuk bekerja sama mengembangkan teknologi ini,” katanya.
Energi Bersih di Sektor Transportasi
Selain mengembangkan teknologi produksi hidrogen, BRIN juga mengembangkan pemanfaatan energi bersih di sektor transportasi melalui inovasi kapal listrik.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Transportasi (PRTT) BRIN, Aam Muharam, menjelaskan bahwa kapal listrik yang dikembangkan BRIN telah diterapkan di Morotai, Maluku Utara, serta Sungai Maron, Jawa Timur. Teknologi tersebut dimanfaatkan nelayan untuk melaut, mengangkut hasil budidaya rumput laut, hingga menjadi sarana transportasi anak sekolah.
Menurut Aam, inovasi tersebut tidak hanya bertujuan menggantikan mesin berbahan bakar minyak, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi masyarakat pesisir yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Perahu listrik di Morotai juga digunakan untuk transportasi anak-anak sekolah. Hal ini sangat membantu dan meringankan biaya yang harus dikeluarkan orang tua,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa biaya operasional kapal listrik jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan bahan bakar minyak. Namun demikian, keberhasilan teknologi tersebut tetap membutuhkan dukungan kebijakan dan ekosistem yang memadai.
“Kalau teknologinya saja diterapkan tanpa dukungan ekosistem, tentu tidak akan berjalan optimal. Dukungan regulasi dan kebijakan menjadi faktor penting agar teknologi ini menarik untuk dikembangkan,” ujarnya.
Meski demikian, respons masyarakat terhadap teknologi tersebut dinilai sangat positif.
“Di beberapa lokasi masyarakat sudah merasakan manfaat elektrifikasi perahu, bahkan mereka menanyakan kapan teknologi ini kembali diterapkan atau ditambah jumlahnya,” tambah Aam.
Melalui pengembangan teknologi produksi biohidrogen, pemanfaatan energi bersih di sektor transportasi, serta penguatan kolaborasi dengan industri, BRIN terus berperan dalam membangun ekosistem hidrogen nasional. Upaya tersebut diharapkan mampu mempercepat hilirisasi inovasi sekaligus mendukung terwujudnya transisi menuju sistem energi yang lebih bersih, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Kepala BRIN Prof. Arif Satria menegaskan bahwa pengembangan hidrogen sebagai energi masa depan memerlukan kolaborasi yang kuat antara lembaga riset, pemerintah, industri, dan para pemangku kepentingan lainnya.
“Persoalan transisi energi, khususnya pengembangan hidrogen, harus dibangun melalui sebuah ekosistem,” tegas Arif.
Menurutnya, riset yang dikembangkan BRIN selalu diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata sehingga memiliki peluang lebih besar untuk dihilirisasikan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan riset hidrogen dari sisi hulu hingga hilir melalui berbagai pusat riset. Pengembangan tersebut diarahkan untuk menghasilkan teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam mendukung transisi energi nasional sekaligus meningkatkan akses energi bersih bagi masyarakat.
“Riset-riset yang kita kembangkan berbasis pada kebutuhan. Kalau riset dikembangkan berdasarkan kebutuhan, saya yakin hasilnya akan lebih mudah dihilirisasi,” katanya.(RA)


Komentar Terbaru