JAKARTA — PT PLN (Persero) ternyata memiliki kelebihan produksi hidrogen mencapai 130 ton per tahun dari pembangkit listriknya.

Dirut PLN Darmawan Prasodjo menyebut, dari total produksi hidrogen 203 ton per tahun untuk sistem pendingin pembangkit, hanya 75 ton yang dimanfaatkan. Sisanya menganggur. Darmawan menjelaskan bahwa setiap pembangkit milik perusahaan bisa menghasilkan hidrogen melalui proses elektrolisis air.

“Setiap pembangkit PLN pasti ada produksi hidrogennya. Sebenarnya, untuk sistem pendinginnya pembangkit menggunakan hidrogen, maka produksi hidrogen kita itu setahun ada 203 ton. Nah, dari 203 ton per tahun, hanya 75 ton yang dimanfaatkan. Sisanya 130 ton itu surplus. Kelebihan itu bisa kita alirkan ke rantai pasok energi transportasi melalui Hydrogen Refueling Station (HRS) di Senayan, Jakarta,” ujar Darmawan di Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di JICC, Jakarta.

PLN juga menggandeng Pertamina untuk mengoptimalkan fasilitas HRS yang sudah siap pakai namun belum memiliki kendaraan untuk mengisinya.

PLN kini menjajaki kerja sama dengan produsen otomotif dari Jerman, China, dan Jepang. Salah satunya Toyota dengan bus hidrogen “Zora”. Darmawan juga mendorong Pemprov DKI agar Transjakarta mulai beralih ke hidrogen.

Selain untuk transportasi, PLN mulai menggunakan hidrogen untuk program dedieselisasi atau penggantian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Dirut PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, hidrogen yang dihasilkan dari proses elektrolisis air di setiap pembangkit bisa menjadi solusi sistem kelistrikan yang lebih ramah lingkungan.

“Untuk dedieselisasi PLTD kita juga sudah menggunakan hidrogen. Ke depan hidrogen menjadi salah satu moda energi storage,” kata Darmawan.

Langkah ini sejalan dengan dukungan PLN terhadap pengembangan ekosistem hidrogen nasional dengan memanfaatkan surplus produksi hidrogen dari pembangkit milik perusahaan.(RA)