JAKARTA – Pembukaan kembali Selat Hormuz yang akan dilakukan setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan damai di Jenewa, Swiss, pada 19 Juni 2026 mendapat respon positif pasar energi dan komoditas global.
Harga minyak mentah diprediksi turun ke USD$75 per barel, sementara emas justru disiapkan reli menuju US$4.874 per troy ounce.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pasar minyak akan kembali ke harga fundamental begitu Selat Hormuz normal. Penyebabnya jelas, oversupply.
“Permintaan minyak dunia berada di sekitar 100 juta barel per hari, sedangkan produksi global telah mencapai 103,1 juta barel per hari,” kata Ibrahim, Selasa(16/6). Kelebihan 3,1 juta barel per hari itu yang bikin harga minyak rentan ambruk begitu risiko geopolitik hilang.
Ibrahim menyebut anjloknya minyak bisa merembet ke ekonomi global. Biaya logistik dan transportasi turun akan menekan inflasi. Jika inflasi turun, The Fed punya ruang lebih besar untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Berbeda dengan minyak, emas justru diuntungkan. Meski tensi AS-Iran reda, perang Rusia-Ukraina belum selesai. Emas tetap jadi buruan sebagai aset aman.
Yang menarik, bank sentral dunia justru makin agresif borong emas. Bank Sentral Tiongkok menambah 10 ton di Mei, total jadi 2.332 ton. Bank Indonesia juga menambah 2 ton di awal kuartal II 2026. JP Morgan memproyeksikan pembelian emas bank sentral dunia tembus 800 ton tahun ini.
“Pembelian emas oleh bank sentral menunjukkan strategi diversifikasi cadangan devisa di tengah situasi global yang belum stabil,” ujar Ibrahim.
Di dalam negeri, penguatan rupiah berpotensi memicu perpindahan dana dari valas ke emas fisik atau emas digital. Fenomena ini biasa terjadi saat investor cari aset aman ketika mata uang menguat.
Secara teknikal, Ibrahim melihat emas dunia masih bisa naik ke USD4.874 per troy ounce pada proyeksi mingguan. Jika tercapai, harga emas domestik berpeluang dekati Rp3 juta per gram.(RA)


Komentar Terbaru