JAKARTA – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menutup program pembelian kembali saham atau buyback dengan realisasi jauh di bawah target. Dari dana maksimal Rp1,7 triliun yang disiapkan, hanya Rp237,61 miliar yang terserap atau sekitar 14%.

Berdasarkan keterbukaan informasi, MBMA mengakhiri periode buyback pada Rabu (17/6/2026). Selama tiga bulan sejak 17 Maret 2026, emiten nikel itu hanya membeli kembali 492,68 juta saham.

Angka tersebut setara 27,4% dari target maksimum 1,8 miliar saham yang diumumkan pada 16 Maret 2026. Artinya, ada 1,3 miliar saham yang batal diserap dan dana Rp1,46 triliun tidak terpakai.

Manajemen MBMA menegaskan berakhirnya program buyback tidak menimbulkan dampak material terhadap operasional maupun keuangan perseroan. MBMA adalah bagian dari PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Merdeka Battery Materials berdiri sejak 2019 dengan nama PT Hamparan Logistik Nusantara.

Pada November 2019, perseroan mulai comissioning salah satu smelternya. Saat ini MBMA memiliki beberapa lini usaha. Antara lain tambang nikel SCM seluas 21.000 hektare di Konawe, Sulawesi Tenggara. Perseroan juga memiliki smelter di kawasan industri Morowali, juga fasilitas konversi nikel matte di kawasan yang sama, fasilitas pengolahan modern, dan sebagainya.

Bisnis nikel yang dilakukan MBMA bersifat terpadu dan terintegrasi, perseroan memiliki pertambangan sekaligus fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk mengolah nikel menjadi baterai untuk kendaraan listrik.(RA)