SORE itu suasana pelabuhan Kalijapat, Pademangan Jakarta Utara, lebih riuh dari biasanya. Maklum saja, kawasan terbatas yang biasanya hanya menjadi pintu masuk para profesional di industri migas kini juga disesaki para tamu undangan yang bersiap menuju Pulau Pabelokan, salah satu pulau yang menjadi pusat denyut nadi kegiatan pengeboran minyak dan gas di selatan pulau Sumatera.

Pukul empat sore rombongan pun mulai beranjak dari pelabuhan dan menuju Pabelokan. Ombak yang relatif tenang menemani sepanjang tiga jam perjalanan.

Pulau Pabelokan merupakan salah satu bagian dari gugusan Kepulauan Seribu, Jakarta. Berbeda dengan pulau lainnya yang dijadikan objek wisata, yang bisa ditemui di Pulau Pabelokan adalah fasilitas dan infrastruktur migas kelas wahid sebagai sentral atau pusat kegiatan pengelolaan Blok Southeast Sumatra (SES).

                                                                       (Foto-foto/doc.Pertamina)

Blok SES merupakan blok migas terbesar di ujung selatan Pulau Sumatera dan kini telah resmi dikelola PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Hulu Energi setelah kontrak China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) berakhir pada 5 September 2018.

Kontrak kerja sama Blok SES pertama kali ditandatangani pada 26 Desember 1991, dan berlaku efektif sejak 6 September 1998 untuk jangka waktu 20 tahun. Sebelum akhirnya kontrak berakhir pada 5 September lalu, telah terjadi beberapa perubahan dalam kepemilikan dan pengalihan hak partisipasi (participating interest/PI), namun operator Blok SES sejak 2002 tetap dipegang CNOOC SES Ltd.

Blok migas yang sudah berumur lebih dari 50 tahun ini merupakan primadona pada zamannya dengan produksi yang sempat menembus angka 200 ribu barel per hari (bph). Seiring berjalannya waktu produksi SES menurun. Wajar, lantaran ratusan sumur di sana sudah uzur. Data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK) Migas mencatat, rata-rata produksi minyak SES berada dikisaran 29.941 bph. Serta produksi gas sebesar 83,99 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Produksi SES berasal dari 31 lapangan, yakni lapangan Aida, Asti, Banuwati, Cinta, E.Rama, Farida, Gita, Indri, Intan, Karmila, Kartini, Kitty, Krisna, Lita, Mila, N.E Intan, N. Wanda, Nora, Rama, South West Wanda, S. Zelda, Selatan, Sundari, Suratmi, Titi, Vita, Wanda, Widuri, Yani, Yvonne dan Zelda.

Ancaman Penurunan

Selama dua dekade berproduksi, lapangan-lapangan tersebut telah menghasilkan gross revenue mencapai US$22,87 miliar, sebesar 57% atau US$13,3 miliar menjadi penerimaan negara. Namun penurunan produksi diperkirakan masih akan terus terjadi dan akan bertambah parah apabila tidak dilakukan upaya untuk menahannya.

Dharmawan H Samsu, Direktur Hulu Pertamina, menegaskan tidak akan tinggal diam dengan ancaman penurunan produksi di blok yang baru dikelola Pertamina tersebut. Berbagai strategi pun telah disiapkan untuk.

Di dalam pengelolaan sebuah aset yang sudah mature, seperti Blok SES sudah berumur 50 tahun, yang pertama harus dipastikan adalah mengetahui dengan baik potensi produksi yang ada. “Di dunia oil and gas itu biasa disebut dengan base management,” kata Dharmawan, di Pulau Pabelokan, Rabu (5/9).

Management base pada dasarnya berupa program-program yang memastikan produksi bisa berjalan baik. Salah satu contohnya adalah pemeliharaan sumur dengan berbagai, seperti metode well work, well intervention, hingga work over. Kemudian beberapa inisiatif lain, seperti gas lift dan juga beberapa usaha untuk membantu mengangkat hydrocarbon dari reservoir ke atas.

Salah satu hal yang dibanggakan dari aset SES ini adalah apa yang disebut dengan artificial lift dengan menggunakan Electric Submersible Pump (ESP). Asal tahu saja dari sekitar 400 sumur di SES, seluruhnya menggunakan ESP untuk mengangkat minyak dari bawah ke atas. Ini merupakan penggunaan ESP terbanyak di Indonesia.

Di SES juga akan diperkenalkan teknologi terbaru yakni menggunakan Ultra Sonic Stimulation. Jika biasanya menggunakan fluida acid, kali ini yang digunakan ultra sonic. Metode ini sendiri merupakan metode yang dikembangkan di Rusia. Tujuan dari penggunaan metode ini adalah efisiensi. Saat ESP dimatikan maka ESP tubing harus diangkat. Kegiatan ini memakan biaya sekitar US$300 ribu – US$400 ribu untuk satu ESP.

“ESP tubing diangkat, kita enggak perlu copot itu. Kalau pompa mati tubing diangkat. Setiap cabut itu kan menghabiskan US$300 ribu. Kami akan mencoba lebih diatas ESP,” ungkap Dharmawan.

Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa tim, terutama yang mempunyai pemahaman baik mengenai prospek. Ini adalah sebuah potensi yang kalau dikembangkan akan menambah skema produksi.

Menurut Dharmawan, Pertamina sudah mempunyai tim ahli untuk memetakan di mana saja additional scheme production potential untuk bisa dikembangkan. Di dalam, misalnya ada infill. Selain infill ada pengeboran di tempat-tempat di sekitar dari lapangan yang sudah berpotensi atau potensi tetangga. Jadi misalnya ada sebuah potensi pocket dari hydrocarbon untuk dikembalikan melalui teknologi dan intepretasi serta model reservoir  yang handal dari tim.

Tentunya tim akan terus mencari opportunity atau peluang dari eksplorasi baru dan itu akan dipetakan oleh tim dan kemudian dilakukan program-program khusus bagaimana supaya hal upaya ini menjadi lebih atraktif. Perlu ada inovasi agar hal ini menjadi atraktif.

Data terakhir, total cadangan terbukti di Blok SES adalah sebesar 57 juta barel minyak. Untuk gas sebesar 151 BCF. Namun potensi tersebut tersebar di titik-titik kecil. Diperlukan kerja keras untuk bisa menggali potensi itu. Misalnya, melalui opportunity hoppers yang tadi. Jadi digabung menjadi satu, sehingga keekonomian menjadi menarik. Dan yang tidak kalah penting adalah dari semua proposal itu, dukungan dari SKK Migas.

“Dan tentunya dari SKK Migas melalui work program discussion itu bisa dikembangkan kemitraan di tempat-tempat di mana bisa dilakukan optimisasi produksi yang lebih lanjut,” ujar Dharmawan.

Selain itu, tugas utama yang tidak kalah penting adalah pemeliharaan fasilitas yang sudah bisa dibilang berusia cukup mature.

“Itu yang paling penting adalah integrity-nya. Integrity sumur sebagai contoh itu sangat penting diperhatikan karena jika produksi bagus, kemudian potensi produksi bagus tetapi integrity tidak bagus maka integrity perlu diintervensi supaya bisa menopang produksi yang ada,” jelas Dharmawan.

Amien Sunaryadhi, Kepala SKK Migas, mengatakan salah satu fokus utama yang harus dikejar manajemen Pertamina sebagai operator Blok SES melalui PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) adalah menekan penurunan produksi.

Komitmen kerja pasti di SES sebesar US$130 juta diperuntukan untuk membiayai berbagai upaya agar laju produksi tetap stabil selama beberapa tahun ke depan sambil menunggu hasil dari eksplorasi yang harus tetap dilakukan PHE OSES.

“Komitmen pasti telah ditetapkan untuk Blok Southeast Sumatra, memang lebih ditekankan untuk menekan laju penurunan produksi seperti komitmen untuk pengeboran, work over, well service dan juga upaya enhance oil recovery (EOR),” ungkap Amien.

Menurut Dharmawan apa yang menjadi amanat dari negara dan SKK Migas terhadap Pertamina dalam mengelola blok SES bukan merupakan hal yang mustahil. Pertamina menargetkan secara keseluruhan produksi migas di Blok SES dapat menembus lebih dari 200 ribu barel equivalent per hari (BOEPD) di 2018.

Dia mengingatkan agar menjadi tidak mustahil maka hal paling penting adalah tim dari Pertamina Hulu, khususnya PHE OSES, mempunyai tantangan untuk selalu memetakan atau mengulik untuk mendapatkan potensi-potensi yang ada.

“Saya yakin dan percaya tim mempunyai kemampuan dan keuletan untuk merawat aset ini sehingga produksi bisa tetap sustainable,” tandas Dharmawan.(Rio Indrawan)