JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengatakan akan mulai mencari pembeli gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) lain menyusul adanya indikasi kontrak jual beli LNG dengan Western Buyer Extension (WBX) asal Jepang tidak akan diperpanjang.

Arif Setiawan Handoko, Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas, mengatakan negosiasi perpanjangan kontrak dengan WBX sudah dilakukan pada 2019, namun belum ada kata sepakat. Padahal kontrak dengan WBX akan berakhir pada 2021. Untuk itu, SKK Migas akan mulai mencari potensi pembeli lainnya.

“Pada 2021 kami lagi cari, misalnya pengganti WBX yang tidak diperpanjang. Kami harus cari gantinya. WBX enggak mau perpanjangan, kami coba cari buyers lain,” kata Arif di Jakarta, Senin (13/1).

Arif mengatakan SKK Migas akan kembali membuka negosiasi dengan WBX pada 2020 karena negosiasi pada tahun lalu masih buntu. Negosiasi yang sudah dilakukan sebelumnya, ada beberapa anggota WBX yang belum sepakat dengan klausul kontrak jual beli, terutama mengenai kesepakatan harga. Padahal biasanya semua anggota WBX sepakat terhadap harga LNG.

“Kami masih berupaya agar dapat diperpanjang. Meskipun tidak semua anggota konsorsium akan memperpanjang kontrak. Kemarin sempat freeze karena tidak tercapai kesepakatan harga. Saat ini, kami akan memulai renegosiasi kembali setelah mendapatkan acuan harga dari hasil penjualan di akhir 2019 kemarin,” ungkap Arif.

Kontrak penjualan LNG terhadap lima perusahaan Jepang atau yang biasa disebut Western Japan dimulai sejak Desember 1973. Kilang Badak menjadi salah satu pemasok terbesar LNG di dunia untuk lima perusahaan sekaligus, yakni untuk Chubu Electric Co., Kansai Electric Power Co., Kyushu Electric Power Co., Nippon Steel Corp dan Osaka Gas Co. Ltd.

WBX menjadi salah satu pembeli utama LNG Indonesia. LNG dipasok dari kilang LNG Badak di Bontang yang dikelola oleh PT Badak NGL. Saat ini saham Badak NGL dikuasai PT Pertamina (Persero) sebesar 55%. Sisanya, dikuasai Vico Indonesia 20%, Japan Indonesia LNG Co (JILCO) 15% dan Total E&P Indonesie (TEPI) 10%.(RI)