JAKARTA – Pesatnya perkembangan bisnis startup energi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya menyiapkan regulasi demi menjaga keberlangsungan bisnis yang mapan.

“Pemerintah, sektor swasta, dan akademisi perlu mendukung start-up baru untuk terbentuk dan start-up yang sudah ada untuk tumbuh, baik sekarang maupun di masa depan,” kata Saleh Abdurrahman, Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Kementerian ESDM dalam APEC Workshop on Achieving Business Sustainability for Clean Energy Start-ups secara virtual, Jumat (28/5).

Dukungan yang bisa diberikan, menurut Saleh, berupa meningkatkan tingkat keahlian, keterampilan dan kapasitas di bidang teknologi energi terbarukan, meningkatkan kesiapan teknologi dan kesiapan komersial energi terbarukan, memberikan bantuan teknis dan finansial untuk permulaan energi bersih, dan mengembangkan teknologi, bisnis dan pasar untuk mengurangi biaya dan meningkatkan penyerapan energi terbarukan.

Menurut Saleh, krisis pandemi COVID-19 membuat industri sektor energi turut terpukul. Hal ini membuat votalitas tinggi pada pergerakan harga minyak. Bahkan perusahaan berbasis fosil rata-rata kehilangan 45% dari nilai total pasar mereka. “Ini merupakan penurunan permintaan minyak paling tajam dalam seperempat abad terkahir,” jelas Saleh.

Sebaliknya, kondisi ini memberikan angin segar bagi industri energi terbarukan. Apalagi nilai investasi EBT menjadi lebih jauh rendah ditopang dengan meningkatnya minta konsumen dan investor terhadap industri tersebut. “Faktor ini menjadi peluang bagi startup energi bersih mengembangkan bisnis dan memperluas pasar mereka,” Saleh menambahkan.

Saleh menggambarkan biaya pembangunan PLTS fotovoltaik (PV) baru dan PLT Bayu lebih murah dibandingkan menjaga pengoperasian PLT berbasis batubara. Misalnya, pergantian 500 Giga Watt (GW) PLTU dengan PV surya dan PLTB akan menekan biaya hingga USD23 miliar setiap tahun, mengurangi emisi tahunan sekitar 1,8 Giga Ton (GT) karbondioksida atau setara 5% dari total emisi karbondioksida global pada tahun 2019. Selain itu, pergantian ini akan menghasilkan stimulus investasi sebesar USD940 miliar atau setara 1% dari PDB global. “Ingat pasar cenderung sensitif pada perubahan harga,” pungkas Saleh.