JAKARTA – Upaya menjadikan kampus sebagai motor transisi energi tak cukup hanya dengan memasang panel surya. Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof Syamsir Abduh, menegaskan bahwa transformasi energi di lingkungan perguruan tinggi membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dan terkoordinasi.

Menurut Syamsir, ada empat faktor kunci yang menentukan keberhasilan kampus dalam menjalankan transisi energi. Faktor pertama adalah komitmen kepemimpinan yang kuat. Ia menyebut, tanpa dukungan pimpinan kampus, berbagai inisiatif energi bersih akan berjalan parsial dan tidak berkelanjutan.

“Kepemimpinan menjadi penggerak utama. Rektor dan jajaran, termasuk dengan pembinanya harus menjadikan transisi energi sebagai agenda strategis, bukan sekadar proyek simbolik,” ujar Syamsir Abduh dalam keterangannya, Senin(4/5/2025).

Faktor kedua adalah pengambilan keputusan berbasis data. Dalam perspektif keilmuan kelistrikan, Syamsir menekankan pentingnya data konsumsi energi, profil beban, hingga potensi energi terbarukan sebagai dasar perencanaan. Tanpa data yang akurat, kebijakan energi berisiko tidak tepat sasaran.

Selanjutnya, integrasi antara aspek teknik, kebijakan, dan keuangan menjadi faktor ketiga yang tak kalah penting. Pembuatan kurikulum hijau, jelasnya, harus sejalan dengan output lulusan yang akan dihasilkan nanti dalam menyongsong green energy.

“Sering kali proyek energi gagal bukan karena teknologinya, tetapi karena tidak sinkron dengan kebijakan dan kemampuan finansial institusi,” katanya.

Faktor keempat adalah pemantauan dan peningkatan berkelanjutan. Dalam sistem kelistrikan modern, monitoring menjadi elemen krusial untuk memastikan efisiensi dan keandalan sistem energi kampus. Evaluasi berkala juga diperlukan agar strategi yang diterapkan tetap relevan dengan perkembangan teknologi.

Syamsir menegaskan bahwa transisi energi di kampus pada dasarnya adalah pergeseran terkoordinasi antara teknologi, kebijakan, perilaku, dan pembiayaan.

“Ini bukan sekadar instalasi perangkat, tetapi perubahan sistemik yang melibatkan seluruh ekosistem kampus,” tegasnya.

Dengan pendekatan tersebut, kampus diharapkan tidak hanya menjadi pengguna energi bersih, tetapi juga laboratorium hidup yang melahirkan inovasi dan sumber daya manusia unggul di bidang transisi energi.(RA)