JAKARTA – Indonesia masih menghadapi tantangan signifikan dalam penyediaan lapangan kerja bagi generasi muda. Data BPS menunjukkan bahwa 19,44% penduduk Indonesia usia 15–24 tahun tidak sedang bersekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan (Not in Education, Employment, or Training/NEET) pada 2025. Sementara itu, tingkat pengangguran pada lulusan SMK mencapai 8,63% pada tahun yang sama, tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Menanggapi hal tersebut, PT BISA Ruang Nuswantara (BIRU), anak perusahaan dan social impact arm dari PT BUMA Internasional Grup Tbk (IDX: DOID), terus berupaya merespons tantangan kesiapan tenaga kerja di Indonesia, dengan tujuan membekali peserta melalui pelatihan yang selaras dengan kebutuhan
industri, sertifikasi kompetensi, serta akses ke peluang kerja internasional.
Menghadirkan ekosistem pelatihan dan sertifikasi terintegrasi yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara pelatihan dan kebutuhan industri, memperkuat kesiapan kerja, serta membuka akses yang lebih luas terhadap peluang kerja, termasuk di pasar internasional seperti Jepang.
BIRU Training Center dan Test Center merupakan bagian dari upaya BIRU untuk memperluas akses terhadap pendidikan vokasi yang berkualitas serta memperkuat jalur menuju pekerjaan yang layak. Hal
ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan Nomor 4 (Pendidikan Berkualitas) dan Nomor 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Ekosistem terintegrasi ini
menggabungkan pelatihan, persiapan kompetensi, dan sertifikasi dalam satu platform yang dirancang untuk mencerminkan kondisi industri serta kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.
Melalui pendekatan ini, BIRU berupaya mempersiapkan talenta Indonesia agar siap memanfaatkan peluang di sektor-sektor dengan permintaan yang berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA International Group, menyebut BIRU Training Center dan Test Center mencerminkan komitmen jangka panjang Grup dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan, dengan pengembangan sumber daya manusia sebagai inti utamanya.
“Kami berupaya menjawab tantangan yang dihadapi generasi muda yang tidak sedang bersekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan, dengan memperkuat keterkaitan antara pelatihan dan dunia kerja, sekaligus membuka akses yang lebih luas terhadap peluang kerja bagi talenta
Indonesia,” ujarnya.
Salah satu contoh dari pendekatan ini adalah program Japan Building Cleaning BIRU, yang mendukung penempatan tenaga kerja melalui skema Pekerja Berketerampilan Spesifik/Specified Skilled Worker (SSW/Tokutei Ginou) di Jepang. Skema ini dirancang untuk membantu menjawab kebutuhan tenaga
kerja di sektor-sektor yang terus mengalami kekurangan tenaga kerja, termasuk bidang pengelolaan kebersihan gedung.
Program ini memanfaatkan peralatan pembersih dan perlengkapan pendukung yang diimpor khusus dari Jepang, sehingga peserta dapat berlatih dengan standar dan kondisi kerja yang mendekati praktik sebenarnya.
Kanya Stira Sjahrir, Chief Executive Officer BIRU, mengatakan sejak didirikan, BIRU terus berkomitmen untuk membantu menjembatani kesenjangan antara pelatihan dan dunia kerja.
“Kami fokus menyiapkan peserta melalui pelatihan yang mencerminkan kondisi kerja nyata, didukung oleh proses penguatan kompetensi dan sertifikasi dalam satu ekosistem yang terintegrasi,” ujarnya.
Kanya mengungkapkan sektor pengelolaan gedung di Jepang diproyeksikan akan membutuhkan sekitar 37.000 pekerja pada tahun 2029.
Sejak akhir 2025 hingga awal 2026, lebih dari 60 peserta telah menyelesaikan pelatihan di BIRU Training Center, dan beberapa lulusannya telah mulai bekerja di Jepang pada Maret 2026. BIRU menargetkan melatih lebih dari 30 peserta setiap bulan guna mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di sektor pemeliharaan gedung di Jepang.
Peluang ini didukung oleh permintaan yang tetap kuat terhadap tenaga kerja asing di Jepang, di mana Badan Layanan Imigrasi mencatat terdapat 287.882 individu dengan status Pekerja Berketerampilan Spesifik hingga akhir Januari 2025, termasuk di sektor pengelolaan kebersihan gedung.
Peluncuran ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat kesiapan tenaga kerja, melalui dukungan dari pemerintah dan mitra institusional yang memiliki visi bersama dalam memperluas akses terhadap pendidikan vokasi berkualitas serta peluang kerja.
Leontinus Alpha Edison, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), mengapresiasi kontribusi BIRU dalam mendukung agenda pemerintah. “Melalui program Perintis Berdaya, kami berupaya membangun ekosistem pemberdayaan yang lebih kuat bagi UMKM, koperasi, dan pekerja migran Indonesia, mulai dari penguatan kapasitas, akses, pembiayaan, hingga tata kelola pemberdayaan dan perlindungan,” ujarnya.
Leontinus menambahkan bahwa melalui pilar Berdaya Global, pihaknya ingin mempersiapkan talenta Indonesia agar lebih siap bersaing di pasar kerja internasional melalui penguatan pelatihan, orientasi pra-penempatan yang relevan secara keterampilan dan budaya, serta tata kelola pekerja migran yang lebih baik. Kami percaya upaya ini tidak dapat dijalankan sendiri.
Senada, Dwi Setiawan Susanto, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia
(KP2MI), mengatakan kesempatan bekerja ke luar negeri, termasuk ke Jepang, pada dasarnya terbuka bagi talenta dari berbagai daerah di Indonesia, selama mereka memiliki standar kompetensi, kemampuan bahasa, dan pemahaman budaya yang memadai.
Sejalan dengan itu, Pemerintah telah mencanangkan penempatan pekerja migran Indonesia secara bertahap hingga 500.000 orang.
“Ini adalah tantangan sekaligus peluang, terutama menuju 2029 ketika bonus demografi kita diharapkan diisi oleh penduduk muda yang produktif, bertalenta, dan memiliki kualifikasi global. Kami berharap inisiatif yang dilakukan BIRU ini dapat menjadi inspirasi untuk terus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan jejaring secara global,” ujarnya.
Kanya Stira Sjahrir mengatakan bahwa ke depan pihaknya akan akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas kapasitas pelatihan, sekaligus berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja global.
PT BUMA Internasional Grup Tbk (BUMA International Group) Didirikan pada tahun 1990, PT BUMA Internasional Grup Tbk (BUMA International Group) adalah perusahaan pertambangan yang terdiversifikasi secara global dengan kegiatan usaha yang tersebar di Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat. Grup beroperasi di bawah empat pilar bisnis utama: Jasa Pertambangan, Kepemilikan Tambang, Kewirausahaan Sosial, dan Teknologi.
Inti dari operasi Jasa Pertambangan adalah PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), salah satu penyedia jasa pertambangan terbesar di Indonesia dan Australia (beroperasi di bawah anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya, BUMA Australia Pty Ltd).
Grup mentransformasi bisnisnya sebagai pemilik tambang pada 2024 dengan mengakuisisi Atlantic Carbon Group, Inc (ACG), dan memposisikan diri sebagai salah satu produsen terkemuka antrasit bermutu sangat tinggi di Amerika Serikat.
Memperluas diversifikasinya, Grup memasuki sektor komoditas masa depan pada 2024 dengan mengakuisisi saham di 29Metals Limited, sebuah perusahaan pertambangan tembaga dan logam dasar yang berbasis di Australia. Portofolio Grup lainnya termasuk PT Bukit Teknologi Digital (BTech), yang berfokus pada pengembangan teknologi pembelajaran mendalam (deep learning) yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi emisi, dan meminimalkan risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), serta PT BISA Ruang Nuswantara (BIRU), perusahaan sosial yang didedikasikan untuk pendidikan, pelatihan kejuruan, dan mendorong ekonomi sirkular.(RA)



Komentar Terbaru