JAKARTA – Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki cadangan bijih bauksit sekitar 3,1 miliar ton atau setara sekitar 10% dari total cadangan bijih bauksit di dunia.

Namun dengan cadangan yang sangat besar, sektor hilirisasi bauksit belum terlalu berkembang dibandingkan dengan hilirisasi nikel. Sejak Undang – Undang No 4 Tahun 2009 yang mengamanatkan kewajiban untuk melakukan hilirisasi mineral hingga saat ini, hanya ada 3 pabrik pengolahan bauksit di Indonesia yang telah beroperasi.

“Hilirisasi bauksit ini sangat bergantung pada energi listrik besar dan yg murah, sementara biaya listrik saat ini masih kurang kompetitif dibanding negara lain. Selain itu investasi smelter alumina aluminium juga sangat mahal dan berisiko tinggi jadi minat investor juga agak kurang dan tidak mantap pada bauksit,” kata Bisman Bakhtiar, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), kepada Dunia Energi Rabu(22/4).

Menurut Bisman, ekosistem industri turunan hilirisasi bauksit belum terbentuk kuat, sehingga rantai nilai tidak langsung menarik seperti pada baterai kendaraan listrik.

Bisman mengatakan bahwa Pemerintah perlu menjamin ketersediaan energi murah dan stabil sebagai faktor kunci keberhasilan smelter aluminium. “Perlu juga kebijakan insentif fiskal, kepastian regulasi, serta skema kemitraan strategis dengan investor global,” ujarnya.

Seperti diketahui, hilirisasi bauksit di Indonesia berfokus pada pengolahan bijih bauksit menjadi Smelter Grade Alumina (SGA) dan Chemical Grade Alumina (CGA), yang kemudian diolah menjadi logam aluminium. Produk turunan ini digunakan dalam industri otomotif, pesawat terbang, kabel listrik, konstruksi, dan bahan kimia.

Tsingshan Holding Group Co. dikabarkan sedang bernegosiasi dengan raksasa perdagangan komoditas Mercuria Energy Group, Glencore Plc, dan Trafigura Group untuk mengamankan investasi di smelter aluminium barunya senilai US$3 miliar (sekitar Rp51,40 triliun) di Indonesia.

Tsingshan — sebuah perusahaan yang telah menjadi kunci bagi munculnya Indonesia sebagai pemain dominan di sektor nikel — biasanya bermitra dengan produsen lokal dan perusahaan logam terkemuka China.

Di sektor aluminium, mereka telah bekerja sama dengan Huafon Group dan Xinfa Group untuk membangun dan mengoperasikan pabrik peleburan di kawasan industri Morowali, Sulawesi, dan di Maluku Utara, tempat Weda Bay berada.

Pengeluaran untuk proyek aluminium baru ini diperkirakan mencapai lebih dari US$3 miliar, termasuk pabrik peleburan dan fasilitas pembangkit listrik terkait, kata sumber tersebut. Proyek ini akan dikembangkan dalam dua fase, masing-masing dengan kapasitas 400.000 ton, tambah mereka.

Tsingshan— milik taipan Xiang Guangda — juga mempercepat proyek-proyek aluminium lainnya untuk memungkinkan grup tersebut masuk pada saat terjadi gejolak pasokan.

Dua pabrik di Indonesia akan menambah kapasitas produksi total sekitar 600.000 ton per tahun paling cepat bulan depan, kata sumber tersebut — lebih cepat dari target kuartal ketiga yang direncanakan.

Xiang, yang taruhan besarnya pada nikel mengguncang Bursa Logam London pada 2022, adalah salah satu dari sejumlah pengusaha China yang meningkatkan kapasitas aluminium di Indonesia.

Adapun, China selaku produsen aluminium terbesar di dunia, telah mencapai batas produksi domestik, mendorong perusahaan untuk mencari tempat alternatif dengan energi murah dan kebijakan yang akomodatif.(RA)