JAKARTA – Sebanyak 20 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terbesar masih menjadi tulang punggung produksi minyak nasional hingga akhir Mei 2026. Berdasarkan data operasional SKK Migas per 31 Mei 2026, produksi minyak nasional mencapai 576.133 barel per hari (BOPD) atau 94,4 persen dari target APBN 2026 sebesar 610.000 BOPD.

Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas menjelaskan fluktuasi produksi migas sepanjang lima bulan pertama tahun ini dipengaruhi sejumlah gangguan operasional pada beberapa aset utama yang menjadi tulang punggung produksi nasional.

“Untuk realisasi produksi, kalau kita lihat di grafik ini, Januari sangat rendah karena terjadi pipa putus (TGI) sehingga tujuh KKKS produksinya sempat berhenti,” kata Djoko di rapat dengan Komisi XII DPR RI beberapa hari lalu.

Sebenarnya masalah pada pipa TGI dengan cepat bisa teratasi sehingga produksi kembali meningkat di bulan Februari. Namun lagi-lagi masalah ditemui. Kali ini adalah masalah kelistrikan di pembangkit listrik blok Rokan, serta kondisi reservoir di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu.

“Ada problem kelistrikan di PHR, dilanjutkan dengan penurunan produksi di Banyu Urip Blok Cepu, dimana dua blok migas ini yang merupakan penopang terbesar produksi nasional kita,” kata Djoko.

Sementara itu PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan ExxonMobil Cepu Ltd masih menjadi dua kontributor terbesar. PHR membukukan produksi 131.040 BOPD atau sekitar 22,7% dari total nasional, sedangkan ExxonMobil Cepu mencapai 129.915 BOPD atau sekitar 22,5%.

Kontributor terbesar ketiga masih dari Peprtamina Group yakni PT Pertamina EP dengan produksi 73.983 BOPD. Selanjutnya PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ) menghasilkan 26.473 BOPD, PT Pertamina Hulu Mahakam 25.575 BOPD, dan Medco E&P Natuna Ltd sebesar 24.023 BOPD.

Di kelompok menengah, PT Pertamina Hulu Energi OSES mencatat produksi 18.036 BOPD, PT Pertamina Hulu Sanga Sanga sebesar 14.957 BOPD, serta PetroChina International Jabung Ltd yang menghasilkan 27.478 BOPD atau mencapai 236,9 persen dari target yang ditetapkan. Sementara JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi membukukan produksi 9.291 BOPD.

Selain 10 besar tersebut, kontribusi signifikan juga datang dari PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur dengan produksi 8.543 BOPD, SAKA Indonesia Pangkah Ltd sebesar 8.754 BOPD, PT Bumi Siak Pusako 7.352 BOPD, dan BP Berau Ltd 7.076 BOPD.

Kemudian PT Pertamina Hulu Energi Jambi Merang menghasilkan 5.303 BOPD, Texcal Energy Mahato Inc. sebesar 4.997 BOPD, PC Ketapang II Ltd 4.833 BOPD, PT Imbang Tata Alam 4.654 BOPD, PT Medco E&P Rimau 4.039 BOPD, serta Petrogas (Basin) Ltd sebesar 4.203 BOPD.

Di luar 20 KKKS terbesar tersebut, kelompok KKKS lainnya secara kolektif masih menyumbang 35.606 BOPD terhadap produksi nasional.

Sejumlah KKKS mencatat kinerja jauh di atas target produksi yang ditetapkan dalam APBN. PetroChina International Jabung Ltd menjadi yang tertinggi dengan pencapaian 236,9% dari target. SAKA Indonesia Pangkah Ltd mencapai 152,2% JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi 129,2% Medco E&P Natuna Ltd 126,3%, serta PT Pertamina Hulu Sanga Sanga 125 persen.

Sementara itu, beberapa KKKS besar masih menghadapi tantangan untuk mencapai target, termasuk PHR yang realisasinya mencapai 80% dari target APBN dan ExxonMobil Cepu sebesar 87,5%

Berikut daftar lengkap kontribusi 20 KKKS terhadap produksi minyak nasional

Sumber SKK Migas, Diolah : Dunia Energi