JAKARTA – Penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (Enviromental, Social, Governance/ESG) dinilai penting untuk memperkuat daya saing hilirisasi nikel Indonesia dalam rantai pasok global. Tata kelola keberlanjutan yang baik tidak cukup hanya dipenuhi secara administratif, tetapi perlu terintegrasi dalam model bisnis dan operasional perusahaan.

“Yang penting adalah mengintegrasikan aspek ESG agar pertumbuhan berjalan bersama dengan upaya meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat lokal,” kata Co-head of Responsible Sourcing Glencore Ilse Schooters menyebut dalam diskusi “Responsible Downstreaming at Scale: Lessons from North Maluku” di Jakarta, Rabu(3/6/2026).

Ilse mengatakan Indonesia memiliki posisi penting dalam rantai pasok kendaraan listrik dan baterai global karena menjadi produsen nikel terbesar di dunia.

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, produksi nikel Indonesia mencapai sekitar 2,6 juta ton pada 2025 atau sekitar 66,7 persen produksi nikel global.

Ilse memperkirakan sekitar 20 persen produksi nikel Indonesia berasal dari kawasan Maluku Utara sehingga daerah tersebut memiliki posisi strategis dalam transisi energi global. Maluku Utara menjadi salah satu basis pengembangan hilirisasi nikel nasional melalui kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah yang terintegrasi dari pertambangan hingga pengolahan bahan baku baterai kendaraan listrik dan baja nirkarat.

Ilse mengungkap kawasan industri tersebut berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir dengan luas sekitar 3.000–5.000 hektare dan mempekerjakan lebih dari 90 ribu pekerja. Kawasan tersebut juga menunjukkan integrasi rantai industri nikel dari tambang, smelter rotary kiln electric furnace (RKEF), fasilitas high pressure acid leach (HPAL), hingga produksi prekursor baterai kendaraan listrik.

Ilse menilai pengembangan industri nikel dalam skala besar membuat penerapan ESG, transparansi, dan pengawasan lingkungan menjadi semakin penting untuk menjaga keberlanjutan industri.

Menurutnya, meningkatnya regulasi global, termasuk standar rantai pasok baterai kendaraan listrik di Eropa, membuat industri nikel perlu memperkuat aspek keberlanjutan agar tetap memiliki akses pasar internasional.

“Dialog, bekerja bersama, dan mencari solusi merupakan bagian penting dari tata kelola ESG yang baik,” ujarnya.

Ilse menekankan penguatan ESG juga menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan pasar internasional terhadap produk nikel Indonesia. Transparansi, pelaporan, dialog dengan pemangku kepentingan, dan audit pihak ketiga dapat meningkatkan kredibilitas industri nikel di mata pembeli global.

Ilse menyampaikan sejumlah perusahaan di kawasan industri nikel Indonesia telah mulai menunjukkan integrasi sistem ESG dalam kegiatan operasional, meski proses penguatan keberlanjutan tetap membutuhkan perbaikan berkelanjutan. Standar internasional seperti Nickel Mark dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kepercayaan terhadap rantai pasok nikel.

ESG Superintendent IWIP Xiaolin Wang mengatakan pengelola kawasan industri terus memperkuat tata kelola ESG untuk menyesuaikan kebutuhan investor, pelanggan, dan regulator global yang terus berkembang. Menurut dia, IWIP mengembngkan model pengelolaan ESG kolaboratif bersama tenant industri melalui standar dasar, mekanisme tata kelola, dan pengawasan di kawasan industri.

Xiaolin menilai penguatan tata kelola ESG menjadi proses perbaikan berkelanjutan yang membutuhkan dialog dengan berbagai pemangku kepentingan. “Pengelolaan ESG merupakan proses perbaikan berkelanjutan,” ujarnya.