JAKARTA РKerja sama antara PT Pertamina (Persero) dengan Saudi Aramco dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Cilacap berpotensi  diperpanjang. Sejatinya keputusan berlanjut tidaknya kerja sama kedua perusahaan tersebut adalah pada Juni 2019. Peluang tersebut tidak lepas dari skema baru dalam kerja sama yang akan coba disodorkan Pertamina kepada Saudi Aramco.

Ignatius Tallulembang, Direktur Mega Proyek dan Petrokimia Pertamina, mengatakan saat ini sedang disusun skema baru yang akan diusulkan. Apabila skema tersebut disepakati Saudi Aramco, maka akan ada perpanjangan pembahasan Joint Venture Design Agreement (JVDA). Paling tidak sekitar tiga bulan untuk persiapan pembentukan perusahaan patungan atau Joint Venture (JV).

“Belum sepakat tapi ada keinginan para pihak untuk melakukan pembicaraan lanjutan, mungkin dengan konsep yang berbeda,” kata Tallulembang ditemui di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Rabu (12/6).

Skema baru yang ditawarkan Pertamina adalah tidak lagi melakukan spin off ataupun harus melalui valuasi aset yang selama ini menjadi salah satu tantangan berat dalam kelanjutan kerja sama kedua perusahaan. Kesepakatan pembentukan perusahaan patungan didalamnya termasuk pembahasan nilai valuasi aset sudah berakhir pada Desember 2018. Namun berdasarkan kesepakatan bersama pembahasan diperpanjang hingga Juni 2019.

Ignatius Tallulembang, Direktur Mega Proyek dan Petrokimia (Foto/Dok/Dunia-Energi)

Pertamina sempat menyodorkan nilai valuasi berdasarkan hasil perhitungan Pertamina, nilai tersebut langsung ditolak Saudi Aramco. Akhirnya negosiasi kembali dilakukan dan mengambil solusi untuk menunjuk pihak independen untuk melakukan perhitungan valuasi. PWC pun ditunjuk sebagai konsultan untuk melakukan penilaian valuasi, namun Aramco ternyata masih belum sepakat dengan nilai yang disodorkan konsultan independen.

Pada skema baru yang ditawarkan nanti, Pertamina akan memiliki porsi sendiri dalam pengembangan Kilang Cilacap. Jika porsi pengerjaan pengembangan yang dilakukan Pertamina sudah selesai, maka baru Saudi Aramco ikut terlibat dalam pengembangan kilang tahap selanjutnya.

“Jadi bukan spin off lagi, bukan valuasi aset, tapi mungkin kayak aset baru saja kita kerja sama bikin yang baru. Mau petrokimia oke, atau mau produk-produk baru yang akan dihasilkan dari Cilacap dengan unit baru. Ada modernisasi kilang, ada improvement kualitas produk ke Euro V itu kami (porsi) Pertamina. Nah ini lanjutannya, kan ada proses lanjutan untuk menghasilkan produk-produk baru itu nanti oleh Saudi Aramco,” ungkap Tallulembang.

Pertamina akan menyampaikan usulan tersebut kepada Saudi Aramco pada akhir Juni mendatang sebagai alternatif sehingga kerja sama bisa dilanjutkan. Karena pada dasarnya pemerintah masing-masing, baik pemerintah Indonesia maupun pihak kerajaan Arab Saudi masih menghendaki adanya kerja sama antar dua perusahaan migas.

“Semangatnya pemerintah di kerajaan Arab Saudi sangat, kedua belah pihak pemerintah ingin ini lanjut dan bahkan mereka mau masuk lebih besar lagi,” ujarnya.

Apabila skema kerja sama baru diterima dan berlanjut maka kemungkinan akan ada penyesuaian dalam pembangunan kilang. Untuk porsi Pertamina saja ditargetkan baru akan selesai di tahun 2025.

Selain perubahan jadwal penyelesaian proyek, konsekuensi terhadap skema baru nanti adalah dari sisi pendanaan. Pertamina dipastikan akan menanggung biaya sendiri saat menjalankan pengembangan di porsinya. Kemudian ditengah jalan perseroan bisa mencari partner lain yang akan menyediakan dana pembangunan kilang. Konsep ini sebenarnya juga akan dilakukan pada proyek RDMP Balikpapan.

“Pendanaan tidak masalah, kami pendanaan ada project financing kan tidak masalah. biasa bangun kilang itu pinjaman 65%-70% sisanya equity. itu pun flexible karena kita bisa cari equity partner seperti di Balikpapan,” kata Tallulembang.

Revitalisasi Kilang Cilacap akan meningkatkan kapasitas produksi kilang hingga 400 ribu barel per hari (bph), dari kapasitas saat ini sebesar 358 ribu bph. Meskipun dari sisi volume tidak terlalu besar peningkatannya, tapi kompleksitas produksi kilang akan semakin meningkat tajam dengan standar NCI menjadi 9,4 meningkat pesat dari sebelumnya yang hanya 4.

Pada proyek Kilang Cilacap Pertamina memiliki saham mayoritas 55% dan Saudi Aramco menguasai 45%. Pembagian tersebut sudah sesuai dengan kesepakatan kedua perusahaan dalam head of agreement yang ditandatangani akhir 2015.(RI)