JAKARTA – Upaya menahan penurunan produksi alamiah terus dilakukan di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu yang dikelola oleh ExxonMobil Cepu Limited. Berbagai langkah teknis diterapkan untuk menjaga tingkat produksi minyak nasional tetap optimal di tengah tantangan natural decline sumur migas.

Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengatakan operator Lapangan Banyu Urip terus melakukan berbagai inovasi untuk menekan laju penurunan produksi secara alami.

“Dalam rangka perang melawan penurunan produksi alamiah, Banyu Urip terus melakukan upaya menahan laju penurunan produksi dengan berbagai cara antara lain menahan keluarnya air dan gas dari sumur dengan injeksi kimia dan High Rate Test untuk menahan gas yang turut terproduksi dan memasang plug untuk menahan air yang juga turut terproduksi,” ujar Djoko dalam keterangannya ke Dunia Energi, Kamis (7/5).

Menurut dia, berbagai upaya tersebut mampu memberikan tambahan produksi minyak yang cukup signifikan. “Lumayan tambahan produksi minyak sumurannya bisa 1.000 – 2.000 barel per hari (bph),” katanya.

Selain optimalisasi sumur eksisting, operator Blok Cepu, juga terus menjalankan program peningkatan produksi melalui kampanye pemboran Banyu Urip Infill Clastic (BUIC). Program tersebut menjadi salah satu strategi utama untuk menjaga produksi minyak nasional tetap tinggi di tengah tren penurunan alamiah lapangan migas tua.

BUIC merupakan kampanye pemboran terbaru di Lapangan Banyu Urip dengan menambah tujuh sumur baru, yang menjadi pemboran pertama sejak 2016. Program pemboran dimulai pada April 2024 dan berhasil diselesaikan pada Juni 2025 atau 10 bulan lebih cepat dari jadwal.

Realisasi produksi dari kampanye pemboran BUIC disebut mampu memberikan tambahan produksi hingga 30.000 barel minyak per hari. Dengan tambahan tersebut, produksi Blok Cepu meningkat dari sebelumnya sekitar 150 ribu bph menjadi 170 ribu hingga 180 ribu bph atau sekitar 25 persen lifting minyak nasional.

Djoko menilai berbagai intervensi teknologi yang dilakukan ExxonMobil di Blok Cepu terbukti efektif untuk menjaga produksi tetap optimal. Selain pengeboran sumur baru melalui BUIC, peningkatan produksi juga dilakukan lewat program perawatan sumur eksisting dan reaktivasi sumur idle.

Salah satu keberhasilan terbaru adalah peningkatan produksi Sumur Banyu Urip A07 melalui program Water Shut-Off (WSO). Produksi sumur tersebut melonjak dari 4.800 bph menjadi 12.300 bph atau meningkat sekitar 7.500 bph, jauh di atas target awal sebesar 1.000 bph.

Lapangan Banyu Urip sendiri merupakan salah satu tulang punggung produksi minyak nasional. ExxonMobil menyebut secara kumulatif Blok Cepu telah menghasilkan lebih dari 650 juta barel minyak mentah dan menyumbang lebih dari 25 persen produksi minyak nasional. (RI)