Setelah lama tak terdengar gaungnya, kini CNG kembali naik daun. Lama diabaikan, CNG kini tengah digadang-gadangkan menjadi energi substitusi LPG yang makin menyedot kucek pemerintah untuk menyediakan energi masyarakat dengan harga terjangkau. Di tengah krisis energi yang tengah melanda dunia akibat konfilik Iran dengan Amerika Serikat-Israel, subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah melonjak signifikan.
Indonesiia memang masih memiliki produksi dan cadangan gas besar, sayangnya untuk Liquefied Petroleum Gas (LPG), sebagian besar masih diimpor. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan dari total kebutuhan LPG sebesar 25 ribu metric ton per hari pada 2025, 80,58% diantaranya berasal dari impor. Bahkan, porsi impor meningkat pada dua bulan pertama 2026 menjadi 83,97%.
Ironisnya, sudah barangnya diimpor, sebagian besar LPG tersebut merupakan LPG yang disubsidi pemerintah alias LPG tabung 3 kilogram. Sementara konsumsi LPG nonsubsidi hanya sekitar 7,5%. Alhasil, lonjakan harga energi, termasuk gas di pasar global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat beban subsidi makin mencekik anggaran pemerintah.
Memutar otak agar ketahanan energi tetap terjaga dan juga mengurangi beban subsidi yang makin bengkak, pemerintah berencana mengoptimalkan penggunaan gas domestik melalui pemanfaatan Compressed Natural Gas alias CNG untuk rumah tangga. Nama CNG sebelumnya lebih dikenal sebagai jenis bahan bakar gas yang digunakan di sektor transportasi.
Upaya mengurangi ketergantungan atas LPG impor dan lebih mengoptimalkan produksi gas domestik sebenarnya telah dilakukan melalui pengembangan jaringan gas rumah tangga.
Sejak 2009, pemerintah melalui Kementerian ESDM sudah membangun jargas untuk rumah tangga. Hingga akhir 2024, tercatat lebih dari 815 ribu rumah tangga yang telah tersambung jargas. Dan pada tahun ini, Kementerian ESDM menargetkan rumah tangga yang tersambung jargas bisa menembus angka satu juta.
Namun pengembangan jargas rumah tangga membutuhkan investasi yang besar. Disisi lain, margin keuntungan segmen rumah tangga relative tipis. Akibatnya, pengembangan jargas rumah tangga dari tahun ke tahun tidak terlalu masif. Padahal dari sisi konsumen atau rumah tangga, penggunaan gas pipa jauh lebih ekonomis dibandingkan menggunakan LPG.
Tidak sebatas memanfaatkan gas domestik, upaya mengurangi ketergantungan terhadap LPG pun dilakoni melalui pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis hilirisasi batu bara. Hanya saja pengembangan DME masih menghadapi isu terkait aspek keekonomian dan kepastian kebijakan.
Kini di tengah memanasnya kondisi geopolitik global hingga mengkerek harga energi termasuk LPG yang mayoritas impor, muncul kembali rencana pemanfaatan CNG.
K
ebijakan itu menuai polemik. Apalagi jika merujuk pada sektor transportasi yang telah jauh hari mengimplementasikan pemanfaatan CNG sebagai bagian dari program konversi dari bahan bakar minyak ke gas tidak bisa dibilang sebagai kisah sukses. Namun juga tidak bisa dibilang gagal. Pasalnya, CNG kini masih terus dikembangkan dan dikomersialkan oleh Perusahaan Gas Negara ke sektor industri, hotel hingga restoran. PGN menyasar pelanggan-pelanggan yang belum terhubung dengan jaringan pipa gas bumi.
Jika di sektor transportasi tidak berhasil, lalu akan diimplementasikan ke sektor rumah tangga dengan karakteristik yang unik, tentu tantangannya akan makin besar. Tidak sekadar soal regulasi, infrastruktur dan kemampuan fiskal negara, namun juga soal standar keselamatan. Pasalnya, CNG akan langsung digunakan sehari-hari oleh masyarakat.
CNG merupakan gas bumi yang dikompresi pada tekanan sangat tinggi, 200-250 bar. CNG membutuhkan tabung baja bermaterial tebal untuk tempat penyimpanan.
Jika dibanding LPG, CNG tentu memiliki banyak keunggulan. Selain faktor utama, pasokannya yang bisa 100% mengandalkan produksi dalam negeri. Dari sisi harga energi, gas alam memiliki biaya sekitar Rp38,5 per megajoule (MJ), jauh lebih rendah dibanding LPG nonsubsidi yang dapat mencapai Rp285 per MJ.
Kajian ReforMiner Institute menyebutkan pada skenario moderat, dengan kata lain, dilakukan subtitusi 50% volume impor LPG dengan gas bumi domestik yang dkonversi menjadi CNG ataupun jaringan gas maka akan diperoleh penghematan devisa hingga US$1,8 miliar-US$2,2 miliar per tahun dengan kondisi harga normal. Bahkan dalam ekskalasi geopolitik, penghematan yang didapat bisa meningkat hingga US$2,6 miliar-US$3 miliar per tahun.
Konversi LPG ke CNG maupun jargas dapat membantu mengurangi beban devisa impor LPG dan subsidi LPG dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam skenario moderat, ReforMiner mencatat beban subsidi LPG di APBN dapat dipangkas hingga Rp40 triliun. Pemanfaatan gas bumi dari program konversi 50% LPG tersebut diestimasi mencapai 482 MMscfd atau setara 7-8% dari produksi gas bumi nasional.
Nah alokasi gas bumi untuk konversi LPG ke CNG maupun jaringan gas rumah tangga juga patut dihitung secara cermat. Pasalnya, meski produksi gas bumi nasional cukup besar, hampir semua sudah memiliki alokasi. Merujuk pada data pemanfaatan gas bumi pada 2025, hanya tersisa 163 MMscfd gas yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan CNG. Angka tersebut masih dibawah dibanding kebutuhan gas bumi untuk mendukung konversi LPG ke CNG maupun jargas rumah tangga yang mencapai 192 MMscfd dengan skenario konservatif alias hanya sekitar 20% volume LPG yang dikonversi. Apalagi jika scenario yang digunakan moderat atau 50% konversi maka kebutuhan gas buminya pun akan jauh lebih besar.
CNG dinilai memiliki potensi besar untuk digunakan pada sektor rumah tangga, transportasi, dan industri. Pada sektor transportasi, penggunaan CNG dinilai mampu menekan biaya operasional sekaligus menghasilkan emisi lebih rendah dibanding BBM konvensional. Demikian juga pada sektor industri, penggunaan gas bumi dinilai lebih efisien dan stabil dibanding batu bara maupun BBM.
Masalahnya, implementasi CNG untuk rumah tangga tidak semudah di sektor transportasi, industri dan sektor komersial. Salah satu isu utama adalah belum adanya standar internasional khusus untuk tabung CNG rumah tangga, termasuk katup, selang, dan instalasinya. Tekanan tabung CNG hingga mencapai 150–200 bar, jauh lebih tinggi dibanding tabung LPG rumah tangga yang hanya sekitar 8 bar. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan material tabung menjadi jauh lebih kompleks dan mahal. Apalagi jika diimplementasikan langsung dalam skala yang luas.
Jika pemerintah ingin mengimplementasikan rencana pemanfaatan CNG untuk rumah tangga, yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah pilot project. Ini untuk mengetahui lebih jauh efektivitas pemanfaatan CNG untuk rumah tangga. Selain itu, kebijakan lain untuk mengurangi ketergantungan atas LPG, seperti pengembangan jaringan gas rumah tangga perlu terus dilakukan. Dengan begitu, ketergantungan atas LPG secara konsisten bisa terus dikurangi.(**)


Komentar Terbaru