SAUMLAKI – Selama hampir tiga dekade, Blok Masela menjadi simbol besarnya potensi energi Indonesia, namun belum sepenuhnya terwujud. Cadangan gas raksasa ditemukan dan tersedia, investasi bernilai puluhan miliar dolar sudah di depan mata, berbagai keputusan strategis silih berganti diambil, namun proyek tersebut berkali-kali tertahan baik oleh perubahan skema pengembangan, proses perizinan, hingga dinamika investasi global.
Tidak lama lagi, industri hulu migas Indonesia akhirnya bersiap memasuki babak baru yang akan menunjukkan kapasitas Indonesia dalam memonetisasi cadangan gas raksasa dan menjadi proyek gas laut dalam terbesar yang pernah digarap di Indonesia. Proyek Strategis Nasional (PSN) Abadi Masela akhirnya memasuki tahap pengerjaan fisik yang ditandai dengan groundbreaking di Pulau Tanimbar, lokasi yang akan dibangun fasilitas pabrik pengolahan LNG Blok Masela.
Rencananya, groundbreaking akan dilakukan secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (16/7) di Pulau Tanimbar. Ini menjadi sinyal serius bahwa proyek Masela menjadi salah satu fondasi utama yang dipercaya pemerintah dalam mengejar target ketahanan energi nasional.
Blok Masela kembali ditempatkan sebagai salah satu proyek energi prioritas. Bagi Prabowo, proyek ini bukan sekadar pembangunan kilang LNG atau lapangan gas baru. Masela dipandang sebagai bagian dari fondasi menuju kemandirian energi Indonesia sekaligus instrumen untuk mengangkat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama gas dunia.
Presiden menegaskan bahwa keberadaan gas Masela menjadi salah satu sumber kekuatan Indonesia menuju swasembada energi.
“Kita punya cadangan gas yang sangat besar, di Andaman, Masela, Natuna, Kalimantan. Ini adalah kekuatan bangsa yang harus kita manfaatkan untuk mencapai swasembada energi,” kata Prabowo beberapa hari lalu saat peluncuran program B50 di Karawang.
Komitmen Prabowo mendukung Masela memang terlihat sejak awal masa pemerintahan. Pada penghujung tahun 2024 atau beberapa bulan setelah dilantik, Presiden meminta tidak hanya Kementerian ESDM di bawah Bahlil Lahadalia, tetapi juga Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk memastikan tidak ada hambatan dalam investasi proyek Masela.
Pesan serupa kembali ditegaskan saat kunjungannya ke Jepang, ketika Prabowo menyampaikan harapan agar proyek yang dikembangkan INPEX bersama para mitranya itu segera direalisasikan setelah mengalami penundaan selama bertahun-tahun. Saat bertemu Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan pelaku usaha Jepang, Prabowo menyampaikan apresiasi atas investasi Jepang di Indonesia, termasuk proyek INPEX di Blok Masela.
“Kami menyambut baik keterlibatan INPEX dan berharap proyek Blok Masela yang telah lama tertunda dapat segera direalisasikan,” kata Prabowo kala itu.
Komitmen dan keyakinan dari pucuk pimpinan negara ini tentu memberikan angin segar. Pemerintah langsung menerjemahkan dukungan Presiden tersebut dengan cepat di tengah berbagai tantangan yang harus dihadapi sejak revisi ke-2 Rencana Pengembangan (Plan of Development/PoD) pada 28 November 2023 yang menggabungkan kegiatan Carbon Capture and Storage (CCS) ke dalam ruang lingkup proyek untuk menangkap CO₂ asli dan menyimpannya kembali di Lapangan Abadi.
Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengambil langkah tidak biasa untuk bisa mempercepat proyek Masela. Pada awal tahun 2025, ia sempat mengirim “Surat Peringatan Pertama (SP-1)” kepada INPEX. Ini menjadi sinyal sangat serius kepada operator Blok Masela, INPEX Masela Ltd, agar proyek Lapangan Abadi tidak molor.
Surat dari Menteri ESDM itu membuat INPEX mau—tidak mau—bergerak, sampai akhirnya pada Agustus 2025 mereka meresmikan kegiatan Front-End Engineering Design (FEED) dengan pengerjaan empat paket utama FEED, yaitu pertama Subsea Umbilicals, Risers and Flowlines (SURF), kedua Gas Export Pipeline (GEP), ketiga Floating Production Storage and Offloading (FPSO), dan keempat Onshore Liquefied Natural Gas (OLNG) Plant.
Pada awal Februari 2026, momen bersejarah lahir ketika akhirnya diterbitkan salah satu dokumen paling penting dalam proyek tersebut, yakni Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dari Kementerian Lingkungan Hidup. AMDAL yang diperoleh INPEX Masela Ltd ini menjadi syarat utama proyek Masela dapat segera masuk ke dalam proses konstruksi.
Pada Maret 2026, Bahlil bertemu langsung dengan CEO INPEX Takayuki Ueda di Tokyo, Jepang. Dalam pertemuan itu, pemerintah Indonesia menekan percepatan proyek Abadi Masela dan meminta Final Investment Decision (FID) segera ditetapkan.
“Atas arahan Bapak Presiden di tahun 2025, kami melakukan pertemuan intensif dan alhamdulillah sudah selesai, total project-nya 20,9 miliar dolar AS karena dia tambah CCS 1 miliar, DPoD-nya itu 20 miliar. Tetapi dengan perkembangan geopolitik yang seperti ini kemungkinan besar akan nambah. Jadi total investasi kita kurang lebih sekitar Rp300 triliun lebih,” ungkap Bahlil.
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa Presiden Prabowo menginstruksikan percepatan implementasi proyek tersebut mengingat perannya yang strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
“Kalau ini mampu kita lakukan maka ketahanan energi kita di sektor migas itu akan semakin kuat dan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain gas di dunia,” tegasnya.
Gerak cepat pemerintah ini sebenarnya yang dinantikan juga oleh para pelaku usaha karena dengan begitu pengembalian investasi akan lebih cepat dan berbagai proses administrasi di berbagai lapis birokrasi juga dapat dipercepat. Pada akhir April lalu, salah satu fase krusial, yakni proses pencarian pembeli gas, akhirnya berhasil dilalui.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menjadi salah satu aktor utama di balik tercapainya berbagai milestone utama di proyek Masela yang dalam dua tahun terakhir dikerjakan dengan kecepatan tinggi. Hal ini dianggap sebagai sinyal positif dari pemerintah yang mau “menjemput bola” dan terlibat langsung bekerja sama dengan pelaku usaha dalam menyelesaikan berbagai hambatan yang timbul saat pengerjaan proyek, khususnya hal-hal nonteknis.
Pada 28 April 2026 pukul 22.00 WIB, SKK Migas, INPEX, dan mitra joint venture (JV) berhasil memperoleh kesepakatan atas aspek legal, finance and commercial terkait LNG Development Agreement (LDA) Masela Project. Dengan disepakatinya LDA, langkah selanjutnya adalah percepatan penandatanganan Head of Agreement (HoA) yang mengikat atau Gas Sales Agreement (GSA), yang ditargetkan dapat dilakukan pada Mei 2026. GSA Masela ini akhirnya diteken pada pergelaran akbar industri hulu migas nasional, Indonesia Petroleum Association (IPA) Convention and Exhibition 2026, yang melibatkan tiga BUMN besar konsumen gas, yakni PT PLN (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).
SKK Migas juga telah menyesuaikan ketentuan terkait proses pengadaan barang dan jasa untuk percepatan proyek Masela ini. Beberapa hasil tender telah disetujui oleh SKK Migas, termasuk pekerjaan awal konstruksi fisik perimeter serta pekerjaan jalan dan land clearing dengan pelaksana kontrak konsorsium PT Petrosea, PT ETI, dan PT Nindya Karya. Selain itu, SKK Migas juga telah menyetujui rencana tender untuk SURF (Subsea, Umbilical, Riser & Flowline) dan GEP (Gas Export Pipeline), serta rencana tender OLNG dan FPSO yang disetujui pada 13 Juli 2026.
Dukungan Pemerintah dan SKK Migas terhadap sanctity of contract serta kepastian stabilitas regulasi untuk Proyek PSN Masela juga telah ditandatangani oleh Menteri ESDM dan SKK Migas pada 10 Juli 2026.
Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, menyatakan berbagai tahapan dan tantangan telah dilalui SKK Migas bersama KKKS pengembang Masela sampai akhirnya tahapan konstruksi bisa dicapai. Hal tersebut bukan hal mudah, namun dengan koordinasi dan sinergi yang baik bersama seluruh pemangku kepentingan, berbagai tantangan yang biasanya sulit atau membutuhkan waktu lama untuk dilalui menjadi lebih cepat.
“Ini semua tidak lepas dari dukungan Bapak Presiden dan Menteri ESDM yang memberikan perhatian khusus terhadap penyelesaian proyek Masela,” ungkap Djoko.
Proyek Abadi LNG Blok Masela akan dilengkapi fasilitas pabrik pengolahan LNG di Pulau Yamdena, Kepulauan Tanimbar, Maluku. Proyek Masela dirancang memproduksi LNG sekitar 9,5 juta ton per tahun (million tonnes per annum/MTPA), gas pipa domestik 150 MMSCFD, dan kondensat hingga 35 ribu barel per hari.
Proyek Abadi Masela diyakini akan menjadi salah satu penggerak ekonomi terbesar di kawasan timur Indonesia, khususnya Provinsi Maluku. Dampak ekonomi yang ditimbulkan tidak hanya berasal dari investasi proyek, tetapi juga dari peningkatan aktivitas ekonomi lokal selama tahap konstruksi hingga operasi. Investasi proyek yang mencapai puluhan miliar dolar AS akan meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku secara signifikan. Aktivitas konstruksi, pengadaan barang dan jasa, hingga operasional kilang LNG akan menciptakan perputaran ekonomi yang besar di wilayah tersebut. Pemerintah daerah juga berpotensi memperoleh tambahan pendapatan melalui Dana Bagi Hasil (DBH) migas, pajak daerah, hingga retribusi.
Kepastian berlanjutnya proyek Abadi Masela ini tentu menjadi angin segar bagi iklim investasi hulu migas di Tanah Air yang juga menunjukkan bahwa Indonesia secara fundamental sudah siap menggarap proyek-proyek berskala besar dengan berbagai dukungan yang disiapkan pemerintah bagi para pelaku usaha, namun tetap berlandaskan kepentingan negara.
Beberapa PSN di sektor hulu migas lainnya yang tengah digarap antara lain South Andaman (Tangkulo) yang dikerjakan Mubadala Energy, Indonesia Deepwater Development (IDD) – Southern Hub dan North Hub Development (Geng North) yang digarap ENI. Selain itu terdapat Asap Kido Merah (AKM) yang dikerjakan Genting Oil Kasuri serta Tangguh UCC (Ubadari, CCUS, Compression) oleh bp.
Djoko optimistis proses yang dilalui dalam pengembangan Masela menjadi pembelajaran positif sekaligus sinyal kuat bahwa kemampuan Indonesia untuk menggarap proyek-proyek hulu migas raksasa sudah jauh meningkat.
“Konstruksi dan keberlanjutan proyek Masela jadi bukti kalau Indonesia mampu menggarap proyek-proyek hulu migas berskala besar,” tegas Djoko.


Komentar Terbaru