Setelah lama dinantikan, pemerintah akhirnya memastikan akan melanjutkan pemberian insentif untuk pembelian kendaraan listrik, baik roda empat maupun roda dua. Menariknya, besaran pemberian insentif akan ditentukan berdasarkan teknologi baterai yang digunakan. Insentif terbesar akan diberikan untuk kendaraan listrik dengan baterai berbasis nikel.
Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut bahwa pemberian insentif yang lebih besar untuk kendaraan listrik dengan baterai berbasis nikel sejalan dengan strategi besar hilirisasi industri nasional. Indonesia yang memiliki cadangan nikel yang besar ingin memastikan sumber daya alam tersebut memberikan nikal tambah maksimal di dalam negeri.
Indonesia merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) tahun 2026, cadangan nikel Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 62 juta metrik ton, tertinggi dibanding negara lain. Cadangan nikel Indonesia sekitar 43% dari total cadangan nikel dunia.
Selain itu, dari sisi sumber daya, total potensi bijih nikel Indonesia jauh lebih besar. Data Kementerian ESDM menunjukkan cadangan bijih nikel mencapai lebih dari 5,9 miliar ton, yang tersebar terutama di Sulawesi dan Maluku Utara.
Bijih nikel sendiri memiliki dua jenis, yakni saprolit atau nikel kadar tinggi yang biasanya diolah dengan metode pirometalurgi, seperti Rotary Kiln Electric Furnace menjadi bahan baku stainless steel. Sementara limonit merupakan nikel kadar rendah yang diolah lewat proses hidrometalurgi seperti High-Pressure Acid Leaching atau HPAL. Limonit umumnya digunakan dalam produksi baterai kendaraan listrik.
Jika merujuk data Dewan Energi Nasional 2024 yang menyebut target populasi kendaraan listrik di Indonesia sekitar 3,3 juta – 4,5 juta unit pada 2030 dan 194 juta unit – 216 unit kendaraan listrik pada 2060, potensi permintaan baterai berbasis nikel atau yang dikenal sebagai NMC, Nickel Manganese Cobalt, sebenarya cukup besar. Apalagi, jika dibanding baterai jenis Lithium Ferro Phosphate atau LFP, NMC memiliki banyak keunggulan, salah satunya kepadatan energi yang tinggi. Masalahnya, dari sisi harga, NMC lebih mahal dibanding LFP yang banyak digunakan oleh pabrikan asal China yang notabene menjadi penguasa pasar kendaraan listrik global, termasuk di Indonesia.
Institute for Essential Services Reform (IESR) mengungkap sepanjang 2025, sebanyak 162,321 unit kendaraan listrik roda empat dan 233.583 unit kendaraan listrik roda dua terjual di Indonesia. Dari total penjualan tersebut, 85% diantaranya mendapat insentif dari pemerintah. Namun seperti hal-nya di pasar global, di Indonesia pun hanya sebagian kecil kendaraan listrik yang menggunakan NMC.
Berdasarkan studi yang dilakukan IESR, industri baterai di Indonesia dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 0,05 persen per tahun selama 35 tahun, jika yang dikembangkan adalah industri baterai berbasis LFP. Kini dengan rencana pemerintah memberikan insentif yang lebih besar kepada kendaraan listrik berbasis baterai NMC, sehingga bisa lebih bersaing, maka kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi akan jauh lebh besar.
Penjualan kendaraan listrik, khususnya mobil saat ini memang tengah berkibar. Selain kondisi daya beli masyarakat yang melemah, melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) sebagai dampak dari Perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel diproyeksi bakal terus menekan penjualan mobil nasional. Bahkan sebelum harga BBM melambung seperti saat ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil listrik berbasis baterai pada tiga bulan pertama 2026 melonjak 95,9% menjadi 33.150 unit dibanding periode yang sama tahun lalu. Lonjakan penjualan wholesales atau pengiriman dari pabrik ke dealer, mobil listrik terjadi disaat penjualan mobil nasional secara umum anjlok hingga 24,6% menjadi 61.271 unit. Artinya, penjualan wholesales mobil listrik telah melampaui penjualan mobil konvensional berbahan bakar minyak (BBM).
Potensi besar ini yang membuat pemerintah terus berupaya mewujudkan mimpi mempunyai industri baterai berbasis nikel dari hulu hingga hilir. Bahkan, skosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai US$5,9 miliar kolaborasi antara PT Aneka Tambang, Indonesia Baterai Corporation dan Contemporary Brunp Lygend (CBL) telah dibangun. Setelah semua selesai dan beroperasi, ditambah adanya insentif yang lebih besar buat pembelian mobil listrik dengan baterai berbasis nikel, bukan tidak mungkin, mimpi bisa jadi kenyataan.(**)


Komentar Terbaru