JAKARTA – PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM/ITMG) membukukan kinerja positif sepanjang semester I 2026. Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar US$110 juta dolar AS. Sementara laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat US$106 juta.
Pendapatan perseroan tumbuh 9% secara tahunan (yoy) menjadi US$1 miliar .
“Kenaikan pendapatan tersebut didukung oleh kenaikan volume penjualan sebesar 5 persen dan kenaikan ASP sebesar 4 persen secara year-on-year. Kenaikan ASP tersebut sejalan dengan harga acuan batubara yang menguat,” ujar Direktur Utama ITMG, Mulianto dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Dari sisi beban, beban pokok pendapatan naik 7% yoy karena nisbah kupas lebih tinggi dan kenaikan harga bahan bakar. Beban penjualan juga naik dari US$81 juta dolar AS menjadi US$88 juta seiring volume penjualan. Total beban operasional tercatat US$114 juta.
Beban pajak penghasilan perseroan juga naik menjadi US$49 juta dari US$43 juta pada semester I 2025, sejalan dengan kenaikan laba sebelum pajak.
ITMG berhasil menekan beban keuangan sebesar 32% secara tahunan pada semester I 2026. Beban keuangan turun dari US$6 juta menjadi US$4 juta.
Hingga 30 Juni 2026, total aset ITMG tercatat sebesar US$2.417 juta.
Indo Tambangraya mencatat peningkatan produksi batubara sebesar 13% pada kuartal II 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan volume produksi mencapai 5,3 juta ton.
Dengan capaian tersebut, total produksi batubara selama semester I 2026 mencapai 9,9 juta ton. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan 10,4 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski begitu, beban pokok pendapatan naik 7% yoy. “Terutama disebabkan oleh kenaikan biaya penambangan dan pengangkutan batubara dikarenakan nisbah kupas yang lebih tinggi dan kenaikan biaya bahan bakar yang mengikuti kenaikan harga minyak dunia,” kata Mulianto.
ITM meningkatkan kontribusi kepada negara melalui pembayaran royalti. Sepanjang semester I 2026, pembayaran royalti kepada pemerintah meningkat 7% secara yoy menjadi US$111 juta.
Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan volume penjualan batubara perseroan.
“Volume penjualan naik 5 persen dan ASP naik 4 persen secara year-on-year. Kenaikan ASP tersebut sejalan dengan harga acuan batubara yang menguat,” jelas Mulianto.(RA)

Komentar Terbaru