INDRAMAYU – Di dapur dekat Rig PDSI #15.3/N110-M Indramayu, lima orang bergerak cepat sejak subuh. Aroma nasi, lauk, dan roti memenuhi ruangan. Hari itu, seperti hari-hari lainnya, mereka harus menyiapkan 720 porsi makanan untuk 180 pekerja rig dalam empat waktu makan.

Tak jauh dari sana, di Desa Temiyangsari, Kroya, aroma lain tercium: kedelai rebus yang diolah menjadi tempe. Di Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal, santri memotong, membungkus, dan mengemas tempe yang kini produksinya menembus 100 kilogram per hari.

Dua dapur, dua cerita, satu benang merah yang dipertemukan PT Patra Drilling Contractor (PDC) dalam Media Gathering 2026 pada 24-25 September lalu bersama 16 awak media nasional.

Bagi Direktur Utama PDC Hery Lesmana, keduanya adalah wajah yang jarang terlihat dari industri hulu migas.

“Media tidak hanya menjadi saluran komunikasi perusahaan, tetapi juga mitra strategis dalam membangun pemahaman publik mengenai industri, bisnis, dan kegiatan hulu migas,” ujarnya.


Tempe yang Menghidupi Pesantren

Sejak Juli 2025, PDC mendampingi program Tempesantren. Bukan sekadar membangun rumah produksi dan memberi alat modern yang lebih higienis, tapi juga melatih santri soal produksi, pemasaran, dan manajemen usaha.

Hasilnya terasa. KH Amin Royani, pimpinan pesantren, bercerita kapasitas yang dulu mentok 40 kg per hari kini lebih dari 100 kg atau 3 ton per bulan. Omzetnya Rp2,5 juta per hari atau Rp75 juta per bulan, dengan laba bersih Rp15 juta per bulan.

Yang membanggakan, tempe santri kini memasok tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pesantren yang menggratiskan pendidikan dan asrama bagi santrinya itu kini punya napas ekonomi lebih panjang, sekaligus membuka kerja bagi santri dan warga sekitar.

“Pendampingan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan pemberian peralatan. Kami ingin pengelola memiliki kapasitas untuk menjaga kualitas, memperluas pasar, dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan,” kata Hery.


Dapur Penjaga Operasi Rig

Sementara itu di rig, Area Coordinator FLS Jawa PDC Dhandy Yaneldo menjelaskan filosofi sederhana: operasi pengeboran yang aman dimulai dari makanan yang aman.

Tim FLS PDC mengelola seluruh rantai: pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga penyajian, semua melewati pemeriksaan mutu. Standarnya bukan dapur rumahan, melainkan standar keamanan pangan untuk operasi hulu migas.

“Layanan PDC di Rig PDSI #15.3/N110-M mencakup penyediaan makanan dan minuman serta layanan kebersihan porta camp,” jelas Dhandy. “Kelancaran operasi rig turut didukung oleh kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi para pekerja.”

Dua dapur itu menunjukkan definisi kontribusi yang berbeda dari PDC. Satu memastikan 180 pekerja rig tetap fit untuk menjaga produksi energi nasional. Satu lagi memastikan pesantren mandiri dan anak-anak tetap bisa makan bergizi gratis dari tempe buatan santri.(RA)