JAKARTA – Di tengah tantangan transisi energi dan tuntutan produktivitas, industri pelumas tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi antara penyedia teknologi, produsen pelumas, OEM, hingga pemerintah menjadi kunci untuk menciptakan nilai yang berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Serena Yei, Mining Team Lead Lubrizol, perusahaan teknologi aditif global, dalam diskusi bertema “Mining That Performs Today Progressing Tomorrow” di Jakarta, Selasa(7/10/2026).

“Dulu penyedia peralatan hanya fokus menjual lebih banyak alat, penyedia pelumas fokus menjual lebih banyak pelumas. Sekarang tidak bisa seperti itu. Ini benar-benar soal kolaborasi dan integrasi bersama,” ujarnya.

Menurutnya, industri alat berat dan pertambangan di Indonesia sedang berada di persimpangan. Di satu sisi ada tuntutan mengambil lebih banyak dari tanah untuk produktivitas, di sisi lain ada isu keamanan, kesejahteraan komunitas, dan lingkungan. Isu emisi karbon rendah hingga kekhawatiran eksploitasi berlebih seperti di Kalimantan menjadi perhatian.

Untuk menjawab itu, tren industri kini bergeser dari reaktif menjadi proaktif melalui digitalisasi. Jika dulu penggantian pelumas hanya mengikuti jam kerja, misalnya 500 jam, kini sensor dan aplikasi monitoring memungkinkan perusahaan melihat kondisi oli secara real-time.

“Dengan sensor, Anda bisa tahu apakah ada masalah dengan pelumas. Mungkin oli Anda masih bagus dan bisa terus dipakai. Ini soal memperpanjang umur pakai alat, bukan sekadar menjual produk,” jelas Serena.

Tantangan B50 hingga Truk Listrik

Kolaborasi ini menjadi semakin krusial menghadapi transisi energi. Mulai dari implementasi biodiesel B40 menuju B50 bahkan B100, hingga kemunculan truk listrik (EV) di sektor tambang.

“Banyak yang khawatir bagaimana B50 akan mempengaruhi performa mesin. Ke depan B60, B70 akan datang. Di sisi lain EV tidak bisa dihindari, pasti akan datang. Tapi tantangannya adalah bagaimana mendapatkan daya untuk charging di area remote,” ungkap Serena Yei.

Ia menilai tidak ada satu pihak pun yang bisa menyelesaikan tantangan ini sendirian. Pemerintah perlu menetapkan kebijakan standar emisi yang selaras, OEM perlu mendesain ulang mesin agar lebih tahan lama dan kompatibel dengan biofuel, sementara penyedia teknologi pelumas harus menyiapkan formulasi yang sesuai.

“Semua harus berkumpul daripada berjalan sendiri-sendiri. Kami di Lubrizol melihat diri kami sebagai enabler teknologi. Kami memungkinkan aditif kimia masuk ke pelumas untuk meningkatkan performa, tapi kami butuh duduk bersama dengan pelanggan,” tegasnya.

Indonesia disebut sebagai pasar yang sangat penting bagi Lubrizol. Sebagai pasar pelumas terbesar di Asia Tenggara dengan populasi besar dan permintaan industri yang tinggi, investasi difokuskan untuk lebih dekat dengan pelanggan.

Lubrizol sendiri telah hadir lebih dari 100 tahun secara global dan lebih dari 40 tahun di Asia Tenggara. Di Indonesia, perusahaan telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan, mulai dari perusahaan migas nasional seperti Pertamina Lubricants, hingga distributor alat berat seperti United Tractors yang menjual merek Caterpillar dan Komatsu.

“Kami sudah menandatangani MoU dengan Pertamina Lubricants saat membuka kantor baru tahun lalu. Tapi pasar berubah cepat, jadi kami perlu bekerja dekat dengan pelanggan untuk melihat bagaimana kami bisa membantu mereka mengatasi masalah di lapangan,” katanya.

Ke depan, potensi kolaborasi tidak hanya di sektor pelumas, tetapi juga dalam pengembangan teknologi untuk menghadapi era baru pertambangan yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.

“Tujuannya bukan hanya menjual lebih banyak aditif, tapi membawa kesadaran kepada semua pemangku kepentingan untuk mencapai industri yang berkelanjutan di Indonesia. Semua orang harus berperan,” pungkasnya.(RA)