INDRAMAYU – Salah satu upaya meningkatkan kapasitas produksi energi Indonesia sekaligus mencapai kemandirian energi guna mewujudkan program Asta Cita pemerintah, Subholding Upstream Pertamina fokus pada proyek strategis pengembangan Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP ABG) Stage 1, Lapangan Akasia Bagus. Lapangan Akasia Bagus merupakan wilayah kerja dari PT Pertamina EP yang merupakan afiliasi dari PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream Pertamina.

Pertamina EP Jatibarang Field mencatat terobosan penting dalam upaya meningkatkan ketahanan energi nasional melalui operasional Stasiun Pengumpul dan Pengolahan Gas – Akasia Bagus (SP ABG).

Fasilitas ini diketahui menyumbang kontribusi signifikan, yakni sekitar 25-30% dari total produksi gas di Lapangan Jatibarang.

Dendy Gradienda, Supervisor SP ABG Jatibarang Field, menjelaskan tantangan utama SP ABG adalah kandungan gas dengan impurities yang sangat tinggi, yakni CO2 content mencapai 65%, yang sebelumnya tidak dapat dimanfaatkan.

“Dengan adanya upaya untuk meningkatkan produksi dan ketahanan energi, kita berusaha membuat plan dan berinvestasi supaya 65% tadi bisa dimanfaatkan dan dimonetisasi nilai keekonomian gas tersebut,” ujar Dendy saat ditemui di SP Akasia Bagus Pertamina EP Jatibarang Field, Indramayu, Jawa Barat, Selasa(22/9/2026).

Fasilitas produksi yang dilengkapi dengan CO2 Removal Package dengan amine system (MDEA), SP ABG Jatibarang menjadi yang pertama di dunia yang mampu memproses gas dengan kandungan CO2 65% menjadi hanya 5%.

“Di Indonesia mungkin ini plant satu-satunya yang bisa menurunkan kandungan CO2 content 65% menjadi 5%. Jadi gasnya bisa dimanfaatkan dan dijual,” jelasnya.

Hasilnya, gas dari SP ABG menjadi gas dengan harga jual tertinggi di Indonesia. Pada ajang Indonesia Petroleum Association Convex (IPA Convex) di Tangerang lalu, gas dari SP ABG tercatat terjual dengan harga US$9 per MMBTU.

Keberhasilan ini pun membuka peluang replikasi di wilayah lain yang memiliki karakteristik gas serupa, seperti di Natuna. SP ABG Jatibarang kini menjadi pilot project dan percontohan nasional.

Untuk target produksi, Dendy menyebut pihaknya akan menjalankan dua train SP ABG hingga kapasitas penuh.

“Target di 2026, kita akan berusaha merunning dua plant SP ABG ini sampai full capacity di 22 MMSCFD gross, supaya target net 8 MMSCFD di akhir tahun bisa achieve,” kata Dendy.

Saat ini, produksi SP ABG masih di kisaran 10-11 MMSCFD dengan net sekitar 3,3 hingga 3,5 MMSCFD. Peningkatan ke kapasitas penuh akan dilakukan setelah commissioning Thermal Oxidizer (TOX) yang ditargetkan selesai pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.

Sebagai informasi, PT Pertamina EP (Pertamina EP) telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan PT Cikarang Listrindo, pada Rabu (20/5), sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Indonesia Petroleum Association Convention & Exhibition (IPA Convex) ke-50 tahun 2026 di Indonesia Convention Exhibiton (ICE) BSD, Tangerang, 20-22 Mei 2026.

Perjanjian jual beli gas yang berlaku hingga 16 September 2035 ini, akan mendukung pemenuhan kebutuhan industri wilayah Jawa Barat. Pasokan gas dari Wilayah Kerja Pertamina EP ini berasal dari Lapangan Akasia Bagus, Jatibarang Field, dengan total volume mencapai 20 miliar standar kaki kubik (BSCF).

Kerja sama antara PT Pertamina EP dan PT Cikarang Listrindo ini merupakan langkah strategis dalam memastikan ketersediaan energi yang andal dan berkelanjutan bagi sektor industri nasional, khususnya di Jawa Barat.

Lapangan Akasia Bagus yang dioperasikan Pertamina EP Regional Jawa Subholding Upstream Pertamina, dikembangkan berdasarkan Plan of Development (POD) yang disetujui pada 27 Desember 2017 dengan mekanisme dua tahap, Stage 1 dan Stage 2 untuk meningkatkan keandalan fasilitas dalam menampung hasil produksi migas, dari kapasitas awal 1.750 BLPD dan 3 MMSCFD, menjadi 9.000 BLPD dan 22 MMSCFD.(RA)