Pemaparan proses EOR melalui injeksi polimer di Pertamina EP Asset 5 Tanjung Field di Tabalong, Kalimantan Selatan (foto: dunia energi/alfian)

 

Metode produksi minyak lanjutan atau Enhanced Oil Recovery (EOR) menjadi salah satu jalan keluar mengatasi penurunan produksi minyak Indonesia yang harusnya sudah dilirik sejak beberapa tahun lalu. Namun, implementasinya terlihat jalan ditempat.

Berbagai studi awal memang kerap dilakukan tapi kelanjutannya justru menguap begitu saja tanpa ada capaian.

Arcandra Tahar, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kerap menyatakan bahwa metode EOR adalah metode produksi minyak lanjutan yang mau tidak mau harus dilakukan oleh kontraktor jika produksinya tidak mau anjlok secara mendadak. EOR juga jadi prioritas pemerintah dan strategi jangka menengah dalam upaya kembali mengatrol produksi minyak nasional dimana harus segera dilakukan dalam waktu dekat, Ini tidak lepas dari kondisi sumur-sumur minyak di Indonesia yang memang sudah berumur tua.

“Proses ini sudah dimulai, tapi hasilnya kapan? Tidak sekarang, nanti baru dirasakan 3-5 tahun mendatang, setelah proyek EOR dilakukan,” kata Arcandra.

Kontraktor kawakan macam Chevron sempat jadi harapan untuk memulai proyek EOR di Blok Rokan dalam skala penuh atau full scale. Di Blok Rokan, saat ini terdapat dua metode EOR yang dikembangkan. Pertama dengan mempergunakan air biasa yang dimasukkan ke dalam injeksi atau dikenal sebagai waterflooding. Kedua, mempergunakan uap dan dikenal sebagai steamflooding. Namun keduanya masih sebatas proyek percontohan dan belum ada tanda-tanda untuk diterapkan secara penuh atau secara maksimal padahal perusahaan asal Amerika Serikat itu dikabarkan telah menggelontorkan ratusan juta dollar baik untuk studi ataupun proyek percontohan EOR.

Akhirnya harapan pun kini berpindah. Siapa lagi kalau bukan ke perusahaan migas pelat merah, yaitu Pertamina! Melalui PT Pertamina EP, anak usaha Pertamina di sektor hulu sekaligus kontraktor kontrak kerja sama di bawah pengawasan SKK Migas, harapan akan terwujudnya peningkatan produksi minyak sebuah lapangan yang sudah tidak lagi muda.

Proyek percontohan EOR dengan memasukkan atau menginjeksikan bahan kimia ke sumur untuk mengangkat minyak sudah dilakukan di lapangan Tanjung di Kabupten Tabalong, Kalimantan Selatan sejak akhir 2018. Proyek percontohan ini diperkirakan memakan waktu setidaknya dua tahun sebelum ditetapkan secara full scale yakni pada  2021. Ini merupakan capaian patut diapresiasi karena jika tidak ada halangan nantinya Pertamina EP jadi kontraktor pertama di Indonesia yang akan menerapkan EOR dalam skala penuh, bukan lagi sekelas proyek percontohan.

Bahan kimia yang digunakan untuk di Tanjung adalah polimer dan diharapkan bisa menguras sisa cadangan minyak di Tanjung yang diperkirakan masih terdapat sekitar 300– 700 MMSTB. Sejak awal mulai proyek percontohan Pertamina EP sudah menggelontorkan US$ 4 juta. Angka yang terbilang sangat kecil jika dibandingkan dengan Chevron yang sudah menghabiskan US$ 165 juta tapi belum terlihat hasilnya.

Andi W Bachtiar, Vice President EOR Pertamina EP, mengatakan untuk menerapkan injeksi polimer dengan kapasitas maksimal maka total dana yang dibutuhkan diproyeksikan bisa mencapai US$ 120 juta.

Dia mengakui perjalanan Pertamina EP untuk kembangkan EOR tidak dalam waktu singkat. Berbagai instansi telah digandeng untuk menemukan formula kimia yang dibutuhkan. Sejak 2010 studi dilakukan bersama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada, EOR Alliance, maupun Lemigas. Total biaya yang dihabiskan untuk studi sudah mencapai US$ 6,1 juta.

Proyek EOR menjadi salah satu proyek yang bernilai ekonomi tinggi lantaran biaya capex yang hanya meliputi belanja modal (capital expenditure/capex)) pemboran, workover, pembangunan fasilitas permukaan (fasilitas produksi dan injeksi, water treatment, dan pembangkit listrik). Sementara untuk operation expenditure (opex) hanya dihabiskan untuk pengadaan bahan kimia.

Menurut Andi, injeksi polimer di Tanjung sebenarnya juga tergolong masih murah karena per barelnya hanya butuh sekitar US$ 5 jadi sehingga jika biaya produksi sekarang sekitar US$25 per barel, tambahan biaya produksi dengan EOR menjadi US$30 per barel.

“Dengan perkiraan peak produksi pada 2034 sebesar 25 ribu barel per hari (bph), proyek ini masih ekonomis untuk diimplementasikan,” kata Andi di Jakarta, baru-baru ini.

Komitmen Pertamina EP menerapkan EOR memang cukup tinggi ada sembilan lapangan yang menjadi fokus untuk diterapkan EOR dengan total belanja modal (capex) yang dibutuhkan diproyeksi mencapai US$ 2,84 miliar.

Sembilan struktur tersebut adalah Rantau, Sago, dan Ramba di Pertamina EP Aset 1; Jirak dan Limau di Pertamina EP Asset 2, Tambun dan Jatibarang di Pertamina EP Asset 3; serta Sukowati di Pertamina EP Asset 4, dan Tanjung di Pertamina EP Asset 5.

Proyeksi Penambahan Produksi dari Penerapan EOR di Pertamina EP

Sumber: Pertamina EP

 

Ada dua metode EOR yang dikembangkan Pertamina EP nanti, yakni menggunakan cairan kimia dan karbondioksida (CO2) jadi di sembilan struktur tersebut tidak hanya diterapkan injeksi kimia, tapi CO2.

Tanjung, Rantau, Sago, Jirak, dan Limau akan gunakan injeksi kimia sementara empat lainnya menggunakan metode CO2.
Andi mengatakan EOR dibutuhkan untuk mendapatkan ultimate oil secara ekonomis dari reservoar minyak, setelah perolehan dengan metode primer konvensional dan metode sekunder dilakukan.

“Potensi proyek waterflood dan EOR itu 69%. Total capex untuk waterflood project dan EOR US$776 juta untuk Lapangan Jirak, Ramba, Tanjung, Belimbing, Rantau, Tempino. Tanjung full scale 2021,” katanya.

Pertamina EP terus berupaya dalam mendorong keberlanjutan proyek EOR. Dia menekankan perlunya dukungan pemangku kepentingan utama yang positif, khususnya dari Kementerian ESDM dan SKK Migas.

“Pertamina EP telah memiliki research and technology center (RTC) dan telah membuat serta melengkapi laboratorium EOR dengan biaya sebesar US$ 5 juta,” katanya.

Dalam proyeksi perusahaan jika seluruh rencana penerapan EOR dikerjakan penambahan produksi bisa sebesar 113,88 MMSTB ini belum ditambah dengan potensi penambahan dari metode waterflood yang diperkirakan bisa sebesar 245,4 MMSTB kemudian produksi diperkirakan akan terus merangkak naik hingga mencapai puncak produksi bisa diatas 100 ribu bph.

Perubahan Paradigma

Benny Lubiantara, Kepala Divisi Teknologi dan Pengembangan Lapangan SKK Migas, mengakui industri migas di tanah air dinilai masih setengah-setengah dalam mengimplementasikan Enhance Oil Recovery (EOR), hanya beberapa perusahaan yang sudah melirik dan sadar akan pentingnya EOR, salah satunya adalah Pertamina melalui Pertamina EP. Ini tidak lepas dari paradigma pengembalian investasi harus cepat.

Kondisi ini diperkeruh oleh kebijakan dan berbagai regulasi pemerintah yang cenderung tidak berpihak pada pelaksanaan proyek EOR.

“Kontraktor cenderung memilih pengembalian yang cepat. Padahal EOR adalah proyek jangka panjang. Di satu sisi, KPI investor dan pemerintah selalu jangka pendek atau di tahun berjalan. Pada akhirnya, EOR jadi prioritas terakhir,” kata Benny di Jakarta (28/3).

Dia menuturkan kontraktor harus melewati berbagai rintangan sebelum memutuskan akan melakukan proyek EOR. Salahsatunya adalah terkait keekonomian. Ini wajar karena biaya yang dikeluarkan untuk proyek ini tidaklah sedikit. Karena itu pelaku usaha tidak jarang juga berharap adanya insentif dari pemerintah.
“Perdebatannya adalah EOR keekonomian. Berapa manfaat yang akan diperoleh? Cost tentu berpengaruh, harga minyak (saat rendah proyek EOR terdampak), serta kebijakan fiskal,” ungkapnya.

Risiko yang cukup tinggi dalam proyek EOR membuat kontraktor harus menjalin berbagai kerja sama misalnya partnership antar perusahaan migas dalam rangka sharing knowledge ataupun sharing resiko dari sisi pembiayaan, kemudian pengurangan biaya dalam hal ini tentu efisiensi yang diincar, lalu keberlanjutan pasokan (misal CO atau kimia), dan sinergi antarpemangku kepentingan.

“Tantangan setiap perusahaan berbeda-beda, seperti ketersediaan infrastruktur, periode kontrak, fiskal, dan sebagainya,” kata Benny. (rio indrawan)