JAKARTA – Emiten Grup Astra, PT United Tractors Tbk. (UNTR), membukukan pendapatan Rp58,3 triliun dan laba bersih Rp956 miliar pada semester I/2026.
Jika dikeluarkan pos non-recurring items, laba bersih perseroan tercatat Rp4,3 triliun atau turun 48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Manajemen UNTR menjelaskan penurunan kinerja terutama dipicu oleh dua faktor, yakni alokasi RKAB batu bara nasional 2026 yang lebih rendah dan penghentian sementara operasional Tambang Emas Martabe milik PT Agincourt Resources.
“Pendapatan bersih sebesar Rp58,3 triliun, turun sebesar 15% dari Rp68,5 triliun pada periode yang sama di tahun 2025,” tulis manajemen dalam keterangan resmi.
Penurunan pendapatan terutama disebabkan penjualan emas yang lebih rendah dari Agincourt, serta pelemahan segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal dan metalurgi. Kondisi ini sebagian diimbangi peningkatan pendapatan dari segmen Kontraktor Penambangan yang terdongkrak penguatan kurs USD.
Laba bersih setelah pajak yang diatribusikan ke pemilik entitas induk turun 88% menjadi Rp956 miliar dari Rp8,13 triliun di semester I/2025. Namun, tanpa pos impairment dan non-recurring lain, laba inti UNTR turun 48% menjadi Rp4,3 triliun.
Penjualan emas dari Tambang Emas Martabe turun 82% karena adanya penghentian sementara operasional. Tambang tersebut telah kembali beroperasi pada kuartal II/2026.
Di segmen alat berat, penjualan Komatsu turun 27% menjadi 1.994 unit. Penurunan paling tajam terjadi pada big machine sektor tambang yang anjlok 55% menjadi 325 unit, imbas alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.
Dampaknya, pendapatan segmen alat berat turun 28% menjadi Rp15,0 triliun.
Segmen kontraktor penambangan PAMA Group mencatat volume pemindahan tanah turun 10% menjadi 481 juta bcm dan produksi batu bara klien turun 3% menjadi 67 juta ton dengan stripping ratio 7,2x. Penurunan ini mengikuti penyesuaian target produksi klien sesuai RKAB.
Namun pendapatan segmen ini naik 4% menjadi Rp27,2 triliun berkat penguatan kurs USD.
Untuk pertambangan batu bara termal dan metalurgi lewat PT Tuah Turangga Agung, volume penjualan turun 10% menjadi 6,0 juta ton, termasuk 1,6 juta ton batu bara metalurgi. Pendapatan segmen ini turun 4% menjadi Rp12,9 triliun.
Segmen pertambangan emas dan mineral lain paling terdampak dengan pendapatan anjlok 66% menjadi Rp2,4 triliun.
Dari sisi neraca, per 30 Juni 2026 UNTR mencatat utang bersih Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5%. Posisi ini berbalik dari kas bersih Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025.
Manajemen menyebut perubahan itu utamanya mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.(RA)

Komentar Terbaru