JAKARTA – Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Migas) memperkirakan kekhawatiran tentang jebolnya penyaluran BBM subsidi baik Solar maupun Pertalite tidak akan terjadi jika melihat dari relisasi konsumsi kedua BBM bersubsidi tersebut. Padahal sebelmnya di awal tahun pemerintah memprediksi konsumsi BBM bersubsidi dikhawatirkan akan jebol atau melampaui target.

BPH Migas mencatat realisasi penyaluran BBM subsidi yakni Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) Solar hingga November mencapai 16,02 juta Kiloliter (KL). Realisasi tersebut sama dengan 89,85% dari kuota yang sudah ditetapkan.

Erika Retnowati, Kepala BPH Migas, menyatakan dengan realisasi prognosa sampai dengan Desember sebanyak 17,51 juta KL. “Atau 98,20% dengan adanya sisa kuota 0,32 juta KL,” kata Erika di komplek parlemen, Kamis (8/12).

Untuk minyak tanah telah tersalurkan 0,443 juta KL atau 91,34% dari kuota dengan prognosa sampai dengan Desember 0,49 juta KL atas sebesar 101,0 3% sisa kuota 0 KL.

Kemudian untuk BBM jenis Bahan bakar Pertalite atau Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) telah tersalurkan 26,90 juta KL atau 89,94% dari kuota. “Prognosa sampai dengan Desember 29,51 juta KL atau 98,66% dan sisa kuota 0,4 juta KL,” kata Erika.

Menurut dia, dengan realisasi yang ada maka BPH Migas optimistis penyaluran BBM bersubsidi tahun ini tidak akan melebihi kuota yang sudah disiapkan.

“Berdasarkan data penyaluran JBT dan JBKP sampai dengan 30 November diperkirakan sampai dengan akhir Desember 2022, minyak solar akan tersalurkan sebesar 17,51 juta KL, kemudian minyak tanah tersalurkan sebesar 0,49 juta KL, dan pertalite akan tersalurkan sebesar 29,51 juta KL,” ungkap Erika.

Pada pertengahan tahun ini sempat ada kekhawatiran konsumsi BBM subsidi bakal tinggi hingga melebihi kuota. Sampai Juli 2022 ini, kuota BBM Pertalite tersisa 6,2 juta Kilo Liter (KL) dari kuota sampai akhir tahun yang mencapai 23 juta KL. Sementara untuk konsumsi Solar subsidi hingga Juli 2022 sudah mencapai 9,9 juta KL dari kuota tahun ini sebesar 14,91 juta KL. Dengan begitu, maka sisa kuota Solar subsidi hingga Juni tinggal 5,01 juta KL. Namun pemerintah dan parlemen memutuskan untuk menambah kuota BBM bersubsidi sehingga diproyeksikan tidak akan terjadi kelebihan konsumsi dari kuota yang sudah disediakan. (RI)