ABU DHABI – PT Pertamina (Persero) menggandeng dua perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA), yakni Abu Dhabi National Oil Company (Adnoc) dan Mubadala untuk menggarap proyek Kilang Balongan dan Balikpapan.

Adnoc ditetapkan untuk menjadi mitra pengembangan kilang Balongan. Sementara Mubadala untuk mitra di pengembangan kilang Balikpapan. Kesepakatan kerja sama pengembangan kilang dipayungi oleh kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dan UEA.

Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, mengatakan kesepakatan itu sebagai awal dari kerja sama bilateral yang akan di sepakati kedua kepala negara. Beberapa bidang kerja sama terjalin antara kedua negara, termasuk di bidang Petrokimia

“Beberapa kerja sama yang telah disepakati adalah, kesepakatan antara Pertamina dan Adnoc untuk pengembangan kilang di Balongan. Pertamina dan Mubadala untuk pengembangan kilang di Balikpapan,” kata Luhut dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/12).

Selain dengan Pertamina kerja sama juga akan melibatkan PT PLN (Persero) dan PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) serta Chandra Asri.

PLN dengan Masdar untuk kesepakatan pembangunan panel tenaga surya terapung 145 Megawatt (MW), kemudian antara EGA dan Inalum untuk pengembangan smelter dan hydropower berbasis 500.000 ton per tahun aluminium smelter di Kalimantan Utara, serta antara Chandra Asri dan Adnoc dengan kontrak jangka panjang.

“Kami membawa pesan dari Presiden, dan ini adalah persiapan awal untuk kunjungan kenegaraan Presiden pada bulan Januari mendatang. Pertemuan ini juga untuk memastikan bahwa kerja sama G to G (Governement to Government) dan kesepakatan bisnis telah tersampaikan dan berjalan dengan baik,” ungkap Luhut.

Pertemuan dengan Putera Mahkota UEA, Pangeran Mohammed bin Zayed bin Sultan Al Nahyan  juga untuk mempersiapkan MoU untuk mendukung pembangunan Infrastruktur di Indonesia, dimana ADIA (Abu Dhabi Investment Authority) akan menjadi partner penting bagi Indonesia.

“Indonesia saat ini juga sedang memproses Omnibus Law untuk memberikan kepastian hukum bagi SWF ini,” katanya.

Luhut juga mengundang Putera Mahkota Pangeran Mohammed Bin Zayed untuk mengirim Timnya guna melihat potensi hydropower di Kalimantan Utara dan Papua.

“Kami berharap, UEA akan menjadi mitra dan sahabat untuk mengembangkan beberapa proyek karbon di Indonesia,” ujar Luhut.(RI)