JAKARTA – Agresifitas Medco Energi di bisnis hulu migas semakin terlihat dengan bertambahnya aset mereka di Sumatera Bagian Selatan melalui penambahan Participting Interest (PI) di Blok Corridor dari semula 46% menjadi 70%. Setelah itu Medco juga mengakuisisi dua blok sekaligus dari Repsol yakni blok Sakakemang dan South Sakakemang pada September 2025 lalu. Medco rela merogoh biaya investasi mencapai US$ 90 juta untuk bisa mengakuisisi 45% PI Repsol di Sakakemang dan 80% PI di South Sakakemang dan menjadi operator di kedua blok gas tersebut. Medco juga sebelumnya menjadi pemimpin dalam konsorsium yang memenangkan lelang blok Amanah. Di sana Medco melalui  PT Medco Energi Linggau berperan sebagai operator dengan PI sebesar 40% diikuti oleh PT Sele Raya sebesar 30% dan KUFPEC Regional Ventures (Indonesia) Limited sebesar 30%.

Kini sudah ada beberapa aset yang dimiliki Medco di Sumatera Selatan yakni Corridor, Rimau, South Sumatera, Sakakemang, South Sakakemang hingga Amanah. Keterlibatan aktif Medco di beberapa wilayah kerja di Sumatera Selatan membuat wilayah itu jadi kontributor terbesar produksi migas Medco. Pada kuartal I 2026, perusahaan mencatat produksi migas sebesar 170 ribu boepd dimana 127 ribu boepd diantaranya berasal dari aset yang berada di Sumatera Selatan.

Jejak Medco di Sumatera bagian selatan tidak hanya di sisi hulu. Medco juga meningkatkan kepemilikannya pada PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) sehingga kini kepemilikan efektif Perseroan di TGI mencapai 40%. TGI sendiri merupakan pemain utama dalam penyaluran gas bumi dari PSC Corridor dan pemasok gas lain di kawasan Sumatera Selatan-Jambi ke berbagai pembeli gas di Riau, Batam, hingga Singapura melalui jaringan pipa gas.

Corridor PSC berproduksi penuh di bawah kepemilikan 70%, sementara Sakakemang saat ini bergerak menuju Final Invesment Decision (FID) pada kuartal III tahun 2026 dengan produksi perdana ditargetkan pada kuartal II tahun 2027.

“Sakakemang ini statusnya development, targetnya kuartal III 2027 kita onstream. Mohon doanya kita bisa onstream di 2027, which is itu akselerasi, karena awalnya menargetkan mungkin 2028,” kata Iwan Prajogi, SVP Business Support PT Medco E&P Indonesia di sela acara IPA Convex 2026, Rabu (20/5).

Sakakemang ditargetkan bisa memproduksi gas mencapai sekitar 120 MMscfd. Gas bisa segera diproduksikan lantaran sudah memiliki kepastian pembelinya yakni PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau (PGN) dan PT Pertamina Patra Niaga (PPN).

Keputusan Medco untuk melakukan ekspansi di wilayah Sumatera bagian selatan bisa dibilang jadi keputusan tepat. Selain karena dari sisi cadangan masih banyak potensi

“Kepemilikan atas infrastruktur strategis memberikan akses pada aset dengan profil arus kas jangka panjang yang kuat, serta memperkuat peran MEDC dalam mendukung kebutuhan energi Indonesia,” kata Roberto dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Keputusan Medco untuk banyak terlibat dalam rantai pasok gas bukan tanpa alasan. Roberto menjelaskan tantangan industri migas sekarang ini sudah cukup besar setelah standar keberlanjutan yang terus meningkat tensi geopolitik global saat ini menciptakan tantangan tambahan berupa gangguan rantai pasok, isu ketahanan energi, dan volatilitas harga komoditas yang ekstrem.

“Minyak dan gas tetap menjadi tulang punggung kami, dengan produksi operasional lebih dari 350 ribu barel setara minyak per hari. Gas kini mewakili lebih dari 70% portofolio kami karena di Asia kami melihat gas bukan sebagai kompromi, melainkan semakin sebagai jawaban pragmatis,” ungkap Roberto.

Produksi migas Medco hingga kuartal I 2026 secara total tercatat lebih dari 350 ribu barel setara minyak per hari (mboepd). Dari total produksi tersebut, sekitar 72% berasal dari gas bumi, menegaskan dominasi Medco sebagai perusahaan berbasis gas. Medco mencatat produksi domestik mencapai 265 mboepd, sementara produksi internasional sebesar 88 mboepd. Untuk produksi gas bruto, perusahaan membukukan capaian 1.245 MMscfd

Gas bakal tetap menjadi pusat strategis Medco. Melalui bisnis gas, Medco menurut Roberto berkembang menjadi perusahaan gas-to-power yang semakin terintegrasi. “Ini menempatkan kami pada wilayah dengan sinyal permintaan energi paling kuat di kawasan serta margin yang cenderung lebih tahan terhadap siklus,” kata Roberto disela sesi Global Executive Talk bertema The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas di  50th IPA Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026, Rabu (20/5).

Di sektor migas juga Medco secara selektif mengakuisisi aset-aset produksi besar. Ketika cadangan mudah sudah habis, skala dan kualitas aset menjadi penopang utama portofolio. Karena itu Medco kata Roberto lebih memilih aset matang, di mana perusahaan bisa mengambil kendali operasional, memiliki kepastian fiskal, dan melihat potensi peningkatan nilai serta jalur eksekusi yang jelas sebelum berkomitmen.

Eksplorasi tetap dilakukan dan kewajiban yang tidak bisa ditawar untuk menambah umur produksi namun salah satu karakteristik strategi Medco dalam 10 tahun terakhir adalah bertumbuh melalui merger dan akuisisi secara luas. “Setelah memilih lokasi, negara, dan aset, kami kemudian memfokuskan sumber daya dan kemampuan untuk memperpanjang umur cadangan melalui pengembangan yang disiplin dan eksplorasi. Bila diperlukan, kami juga bermitra untuk memperoleh teknologi maupun skala usaha,” jelas Roberto.

Kini Medco mencatat rata-rata penggantian cadangan berada di atas 200%. Artinya, melalui eksplorasi dan merger-akuisisi, Medco menggantikan lebih dari dua kali lipat produksi.

Hadi Ismoyo, Praktisi Migas sekaligus mantan Sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), mengungkapkan keputusan Medco untuk fokus “bermain” wilayah Sumatera bagian selatan dari sisi teknis bisa dibilang tepat. Karena wilayah di sana diyakini masih menyimpan potensi yang besar. “Ini langkah yang strategis. Karena Sumatra Selatan masih menyimpan potensi migas besar utamanya di deeper prospect,” kata Hadi kepada Dunia Energi, Rabu (20/5).

Sekarang tinggal bagaimana Medco mengoptimalkan potensi tersebut dengan rajin melakukan berbagai kegiatan mulai dari eksplorasi hingga ke pengembangan. “Perlu melakukan banyak aktivitas explorasi termasuk dan tidak terbatas pada seismik dan drilling ekplorasi,” ujar Hadi.

Strategi dan pilihan bisnis Medco tidak hanya diterapkan pada bisnis gas yang merupakan revenue generator perusahaan, tapi juga diaplikasikan di dua portofolio bisnis ketenagalistrikan dan tambang mineral. Proyek harus layak secara komersial dan memberikan nilai tambah bagi sistem, bukan sekadar menambah kapasitas.

Dari sisi keberlanjutan, MedcoEnergi meraih peringkat MSCI ESG “AAA” yang menempatkan Perseroan dalam kelompok 11% perusahaan global di sektor Oil & Gas Exploration & Production yang meraih peringkat tertinggi dari MSCI.

Di Sumatera bagian selatan kita bisa melihat Medco sedang membangun ekosistem gas yang terintegrasi. Ketika banyak negara mulai khawatir terhadap keamanan pasokan energi, Medco justru memperbesar jejaknya pada sektor yang dianggap paling memimpin transisi energi yaitu gas bumi. (RI)