JAKARTA – Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. akan menghentikan sementara beberapa jalur produksi unitnya di Indonesia, mulai 1 Mei 2026. Langkah ini memangkas setengah dari output pabrik, setelah kenaikan harga sulfur yang memicu peningkatan biaya di salah satu proyek nikel baterai utamanya.
Mengutip mining.com, (28/4), produsen nikel dan kobalt asal Tiongkok itu menyampaikan bahwa pabrik Huafei Nickel Cobalt, unit usaha Huayou Indonesia, akan mengurangi produksi karena biaya sulfur yang lebih tinggi serta perawatan yang dibutuhkan setelah periode panjang produksi dengan kapasitas tinggi.
Tidak disebutkan berapa lama pemadaman listrik akan berlangsung. Harga spot sulfur yang dikirim ke Indonesia tercatat naik di atas US$800 per metrik ton sebagai imbas dari perang Iran yang mengganggu produksi dan pengiriman bahan baku utama dari Teluk. Kawasan ini menghasilkan sekitar seperempat pasokan sulfur global dan sekitar 75% pasokan Indonesia.
Huayou akan mempercepat peningkatan proses untuk mengurangi konsumsi asam sulfat dan memperluas saluran pasokan sulfur. Selain itu, Huayou juga akan mempercepat pengembangan sumber daya pertambangan nikel, kobalt, dan litium yang diperoleh melalui investasi dan kepemilikan saham.
Reuters melaporkan pada 14 April bahwa beberapa produsen HPAL Indonesia yang dioperasikan oleh Huayou, Lygend Resources, dan Tsingshan Group telah memangkas produksi setidaknya 10% karena kenaikan harga sulfur sejak Maret.
Penghentian operasi sementara pabrik Huafei Indonesia menjadi sinyal bahwa krisis sulfur global sedang melanda sektor nikel HPAL (High-Pressure Acid Leach) di Indonesia. Pabrik HPAL menggunakan asam sulfat untuk memproses bijih laterit menjadi endapan hidroksida campuran, produk antara yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik.
Proyek Huafei mengadopsi Teknologi HPAL Generasi ke-4, yang memiliki banyak keunggulan seperti proses yang singkat, konsumsi energi yang rendah, dan ramah lingkungan. Setelah proyek ini selesai kontruksi maka akan menggantikan posisi Huayue Nickel Cobalt sebagai proyek HPAL bijih nikel laterit terbesar di dunia.
Huafei menghasilkan pendapatan sebesar 14,50 miliar yuan (US$2,12 miliar) pada tahun 2025, yang menyumbang 17,89% dari total pendapatan Huayou. Laba bersihnya mencapai 1,25 miliar yuan, sementara bagian laba yang diatribusikan Huayou dari unit tersebut adalah 569 juta yuan, atau 9,32% dari laba bersih perusahaan induk. (US$1 = 6,8372 yuan Tiongkok).(RA)



Komentar Terbaru