JAKARTA – Masyarakat tidak panik terhadap isu pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global, termasuk situasi keamanan di kawasan Selat Hormuz.

Dwi Soetjipto, Founder DS Research Center yang juga mantan Direktur Utama Pertamina sangat yakin, berdasarkan pengalamannya di Industri migas bertahun-tahun saat ini pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman dan distribusi BBM kepada masyarakat tetap berjalan normal.

“Untuk saat ini masyarakat tidak perlu cemas. Pasokan BBM tetap berjalan normal sehingga tidak perlu terjadi panic buying,” ujar Dwi di Jakarta dikutip Kamis (19/3).

Ia menjelaskan bahwa informasi yang sering beredar di masyarakat mengenai stok BBM Indonesia sekitar 21 hari kerap disalahartikan. Angka tersebut sebenarnya merujuk pada cadangan operasional, bukan cadangan strategis energi nasional. “Perlu dipahami bahwa angka 21 hari tersebut adalah cadangan operasional yang digunakan dalam sistem distribusi energi sehari-hari, bukan cadangan strategis energi nasional,” jelas Dwi.

Cadangan operasional tersebut merupakan stok yang dibutuhkan oleh PT Pertamina (Persero) untuk menjamin keamanan pasokan BBM kepada konsumen. Jadi selama Pertamina tidak menghadapi kendala dalam produksi maupun rantai pasok energi—termasuk proses impor bahan baku—maka pasokan BBM kepada masyarakat seharusnya tetap aman.

“Cadangan operasional adalah cadangan yang dibutuhkan Pertamina untuk menjamin keamanan pasokan kepada konsumen. Jadi selama tidak ada gangguan pada produksi dan rantai suplai, pasokan BBM kepada masyarakat mestinya aman,” kata mantan Dirut Pertamina Periode 2014-2017 itu.

Ia juga menekankan pentingnya transparansi informasi kepada publik terkait kondisi produksi dan rantai pasok energi nasional. Menurutnya, pembaruan informasi secara berkala akan membantu menjaga kepercayaan masyarakat serta mencegah munculnya kekhawatiran yang berlebihan. “Oleh karena itu diharapkan Pertamina dapat terus memberikan update kepada publik mengenai kondisi produksi dan rantai suplai energi nasional,” tambahnya.

Terkait dinamika geopolitik global, menurut Dwi kawasan Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Gangguan di kawasan tersebut biasanya berdampak pada kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya volatilitas pasar energi.

Meski demikian, menurutnya kondisi saat ini masih dalam tahap pemantauan dan belum berdampak langsung terhadap pasokan energi nasional.“Untuk Indonesia, dampaknya masih dalam tahap waspada dan wait and see sambil terus memantau perkembangan global,” jelasnya.

Dwi juga menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah dan Pertamina memiliki berbagai langkah antisipasi apabila terjadi gangguan pada rantai pasok energi global, termasuk potensi gangguan distribusi di Selat Hormuz.

“Jika terjadi gangguan rantai suplai dari Selat Hormuz, kami yakin Pertamina dan pemerintah memiliki berbagai solusi untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional,” ujarnya.

Dia menilai ada pelajaran penting bagi Indonesia untuk terus memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang. Ia mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki arah kebijakan energi melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Tantangan berikutnya adalah memastikan implementasi kebijakan tersebut berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.

Menurutnya, terdapat beberapa langkah strategis yang perlu terus diperkuat, antara lain peningkatan eksplorasi energi domestik, peningkatan kapasitas kilang nasional, penguatan cadangan energi strategis, serta percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan.

Dwi juga menekankan pentingnya Indonesia memiliki cadangan energi strategis nasional sebagai lapisan perlindungan tambahan untuk menghadapi potensi gangguan energi global di masa depan.

“Untuk jangka panjang akan lebih aman apabila negara memiliki cadangan strategis nasional yang kuat sehingga ketahanan energi kita semakin terjaga,” katanya.

Dwi menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan terhadap kondisi energi nasional saat ini. Yang lebih penting adalah memastikan kebijakan energi nasional terus diperkuat sehingga Indonesia memiliki sistem ketahanan energi yang semakin tangguh di masa depan.

“Tujuan kita sama, yakni membangun sistem energi nasional yang kokoh, berkelanjutan, dan tangguh untuk 10 hingga 15 tahun ke depan,” kata Dwi. (RI)