BOJONEGORO – Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) mencatat keberhasilan signifikan dalam pelaksanaan kegiatan Perawatan Sumur (Well Services/WS) pada Sumur Banyu Urip A07 melalui program Water Shut-Off (WSO), yaitu upaya untuk mengurangi aliran air yang tidak diinginkan di dalam sumur sehingga sumur dapat memaksimalkan produksi minyak. Keberhasilan ini mampu meningkatkan produksi minyak secara signifikan sekaligus menghadirkan efisiensi waktu dan biaya operasional.

Produksi minyak Sumur Banyu Urip A07 melonjak dari 4.800 barel minyak per hari (bph) menjadi 12.300 bph, atau meningkat sebesar 7.500 BOPD jauh melampaui target awal sebesar 1.000 bph. Tambahan produksi ini memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan lifting minyak nasional.

Lapangan Banyu Urip selama ini dikenal sebagai tulang punggung produksi minyak nasional. Oleh karena itu, setiap tambahan barel yang dihasilkan dari lapangan ini memiliki dampak strategis dalam menjaga stabilitas pasokan dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Program WSO dilaksanakan untuk menghentikan aliran air yang tidak diinginkan dari zona bawah sumur sehingga sumur dapat menghasilkan proporsi minyak yang lebih tinggi dan mengoptimalkan potensi produksinya. Metode yang diterapkan meliputi pemasangan bridge plug, re-perforation, serta stimulasi acidizing. Pendekatan teknologi ini terbukti efektif dalam mengoptimalkan potensi sumur eksisting tanpa perlu pengeboran baru, sehingga tambahan produksi dapat diperoleh lebih cepat dan lebih hemat biaya.

Djoko Siswanto, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengungkapkan keberhasilan ini menunjukkan bahwa intervensi teknologi yang tepat dapat memberikan peningkatan produksi yang signifikan dalam waktu relatif singkat. “Ini adalah bukti bahwa optimalisasi sumur eksisting dapat secara langsung mendorong peningkatan lifting minyak nasional,” ujar Djoko dalam keterangannya, Rabu (4/3).

Ia menambahkan bahwa efisiensi menjadi nilai tambah penting dalam program ini. “Selain meningkatkan produksi, kegiatan ini juga menunjukkan efisiensi biaya dan waktu. Praktik baik seperti ini perlu direplikasi di lapangan lain untuk mempercepat pencapaian target lifting nasional serta memperkuat ketersediaan energi,” tambahnya.

Secara operasional, seluruh pekerjaan dilakukan tanpa menggunakan rig (rigless operation) dengan memanfaatkan unit wireline, sehingga pelaksanaan menjadi lebih cepat dan ekonomis. Dari sisi anggaran, realisasi biaya tercatat sekitar 57% dari total anggaran yang telah disetujui, mencerminkan pengelolaan program yang efektif dan efisien.

Keberhasilan Well Services Sumur Banyu Urip A07 ini menegaskan bahwa strategi optimalisasi sumur eksisting merupakan langkah konkret dan cost-effective dalam menjaga momentum peningkatan lifting minyak nasional. Keberhasilan ini akan menjadi pembelajaran bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang lain utntuk dapat menerapkan teknologi secara tepat dalam upaya peningkatan produksinya. Dengan inovasi teknologi yang tepat, sektor hulu migas mampu menghadirkan tambahan produksi secara berkelanjutan demi memperkuat ketahanan dan ketersediaan energi Indonesia. (RI)