JAKARTA – Teknologi nuklir tidak hanya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). BRIN menyebut teknologi ini kini dimanfaatkan untuk kesehatan, pertanian, pangan, industri, hingga pengelolaan lingkungan. Hal itu disampaikan dalam kunjungan Komite II DPD RI ke BRIN, Senin (29/6).

Kepala Pusat Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri BRIN Tita Puspitasari mengatakan radioisotop dan radiofarmaka berperan dalam diagnosis dan terapi kanker, penyakit jantung, dan gangguan ginjal.

“Pemanfaatan radioisotop dan radiofarmaka telah berkontribusi signifikan dalam diagnosis dan terapi berbagai penyakit. Deteksi dini melalui kedokteran nuklir mampu meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan sekaligus berpotensi menekan biaya pelayanan kesehatan,” jelas Tita.

Guru Besar Fisika Nuklir ITB Abdul Waris menegaskan isu limbah radioaktif PLTN tidak perlu menjadi kekhawatiran utama. Menurutnya, limbah bahan bakar nuklir dapat didaur ulang sehingga bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar baru, termasuk untuk kesehatan dan pangan.

“Dengan perkembangan teknologi saat ini, isu limbah radioaktif tidak perlu menjadi kekhawatiran utama dalam pengembangan teknologi nuklir,” ujar Waris.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN Syaiful Bakhri menambahkan, pengembangan nuklir nonenergi membutuhkan ekosistem riset kuat, SDM kompeten, dan literasi publik.

“Literasi publik juga perlu terus ditingkatkan agar masyarakat memahami bahwa teknologi nuklir merupakan teknologi yang aman dan bermanfaat,” tegas Syaiful.(RA)