CIKARANG – PT Katup Industri Indonesia (KII) menjalin kerjasama lisensi (licensed partnership) dengan OMS Saleri SpA, perusahaan manufaktur dan rekayasa terkemuka asal Italia yang terkenal sebagai spesialis dalam produksi high engineering valve. Melalui berjasama ini perusahaan berharap mampu memproduksi valve yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi dan berstandar internasional, khususnya untuk memenuhi permintaan dari sektor minyak dan gas (migas).

Uniknya, model kerjasama lisensi dengan PT KII merupakan yang pertama dilakukan OMS Saleri sejak berdiri pada 1896 untuk menjangkau pasar global yang lebih luas. Biasanya, OMS Saleri membangun pabrik sendiri untuk menembus pasar valve yang ingin dimasukinya. “Indonesia menjadi negara pertama yang memperoleh skema alih teknologi dari OMS. Mereka percaya pada tekad, visi dan kemampuan kami sekaligus melihat potensi pasar valve Indonesia yang sangat besar,” ungkap Chairman PT Katup Industri Indonesia, Jacob Mailoa, saat acara Licensed Partnership Signing Ceremony, di pabrik PT KII, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Selasa (30/6).

Ia menambahkan pasar valve Indonesia ditaksir antara US$200-300 juta. Meskipun sudah terdapat merek yang mapan, PT KII meyakini pasarnya masih terbuka lebar bagi pemasok lain seiring dengan kebijakan pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional. “Dalam menggarap pasar valve, untuk high engineering valve yang difokuskan untuk sektor migas kami memenuhi pasar dengan valve merek KII-OMS, sementara untuk pasar valve standar disasar dengan brand sendiri yakni KII,” ungkap Jacob.

Acara penandatanganan kerjasama tersebut dihadiri President & CEO OMS Saleri SpA Piero Saleri, Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Joko Hadi Wibowo, Kepala Kelompok Kerja Kapasitas Nasional dan Jaminan Kualitas SKK Migas Djoko Budiyanto, perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta sejumlah mitra kerja dari perusahaan migas dan EPC nasional.

Piero Saleri berharap licensed partnership yang dilakukan dengan PT KII dapat menciptakan nilai tambah bagi industri manufaktur di Indonesia. Dia melihat  Indonesia merupakan pasar potensial yang tumbuh dengan cepat. “Kami ingin menjadi part of the future dari pertumbuhan tersebut melewati transfer teknologi, peningkatan kapasitas lokal, safety, menciptakan lapangan kerja, dan sebagainya,“ katanya.

Managing Director PT Katup Industri Indonesia, Evelyn Angelita, menambahkan OMS Saleri dipilih sebagai mitra kerena perusahaan tersebut memiliki foundry yang memungkinkan 100% inhouse casting dari bahan baku hingga produk akhir valve. “OMS memiliki full in-house capability, sudah beroperasi lebih dari 130 tahun, dan memiliki rekam jejak global yang sangat baik. Kami ingin punya partner yang memang melakukan semuanya in-house dari semua keputusan desain, pemilihan material, machining, sssembling, testing, painting hingga produk akhir,” katanya.

Managing Director PT Katup Industri Indonesia, Evelyn Angelita, menambahkan OMS Saleri dipilih sebagai mitra antara lain kerena perusahaan tersebut memiliki foundry yang memungkinkan 100% inhouse casting dari bahan baku hingga produk akhir valve. (Foto: PT KII/dok).

Evelyn menuturkan perlu waktu yang panjang untuk meyakinkan OMS Saleri agar bersedia melakukan kerjasama sebaga licence partner alih teknologi. “Prosesnya kurang lebih satu tahun. Karena mereka ingin memastikan kami serius, profesional dan memiliki misi untuk men-develop produk valve yang berkualitas,” ungkapnya

Melalui kerjasama lisensi ini, kata Evelyn, para engineer dari PT KII akan bekerjasama dengan engineersehingga akan  ada transfer ilmu pengetahuan dan teknologi.  “PT KII akan menerapkan manufacturing discipline yang sama dengan OMS. Jadi, klien kami di Indonesia akan menerima valve dengan kualitas yang sama  dari yang diproduksi oleh OMS,” tuturnya.

Untuk pengembangan bisnis PT KII ke depan, papar Evelyn, perusahaan sudah membagi menjadi tiga bagian penting yakni memperdalam kapabilitas manufaktur dengan menambah lebih banyak certified engineer dan diversifikasi produk, membangun brand sendiri yakni KII yang diperkuat dengan proses transfer teknologi sehingga dihasilkan produk yang memenuhi standar internasional, serta memperkuat rantai pasok (supply chain) dengan membangun ekosistem bisnis industri katup. “Jalan ini masih panjang, tapi kami sudah di jalur yang benar,” tegasnya.

Pabrik PT KII diresmikan di Kawasan Industri Delta Silicon Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada akhir Oktober 2023 dengan investasi awal sebesar US$12 juta. Pabrik ini memproduksi berbagai varian produk valve berupa Ball Valve Floating, Ball Valve Trunion dan Gate/Globe/Check dengan ukuran dari 1/2“, 24“, dan ANSI CLASS 150-ANSI 900. Dengan berbagai inovasi dan kerjasama, ukuran dan kelas valve yang diproduksi dapat terus berkembang,

Jacob menambahkan PT KII memproduksi valve yang sudah terstandar nasional maupun internasional seperti ISO, American Petroleum Institute (API), dan TKDN. PT KII sudah memiliki 18 sertifikat TKDN. Untuk standar API, produk katup PT KII di antaranya dapat memenuh standar API 600 (untuk steel gate valve yang umum digunakan pada kilang), API 6D (untuk pipeline valve), API 602 (compack steel gatevalve), dan API 608 (metal ball valve). “Produk kami untuk valve khusus adalah customized yang diproduksi setelah adanya pemesanan. Kami membidik pasar sektor migas untuk jenis valve ini sehingga harus berstandar API,” kata Jacob.

Harapan Pemerintah

Direktur Tekling Kementerian ESDM Joko Hadi Wibowo mengapresiasi kerjasama lisensi yang dilakukan PT KII dan OMS Saleri yang dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat ekosistem industri penunjang migas nasional. Menurutnya, kolaborasi tersebut bukan hanya berdampak pada aspek bisnis, tetapi juga mempercepat penguasaan teknologi dan meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia.

“Kerja sama ini tidak hanya penting dari sisi bisnis, tetapi juga memiliki makna strategis dalam mendorong penguasaan teknologi, peningkatan kemampuan produksi dalam negeri, serta daya saing internasional,” kata Joko.

Ia menambahkan, penguatan TKDN harus terus diiringi peningkatan kapasitas industri nasional, kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, serta kemampuan menghasilkan produk yang kompetitif di pasar global. “Patut dipahami bersama bahwa TKDN bukan hanya sekadang prosentase angka tetapi harus mencerminkan peningkatan kapasitas anak bangsa dalam alih teknologi, peningkatan kompetensi, perluasan investasi, serta kemampuan mengjhasillan produk yang mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional,” tegasnya.

Joko menyampaikan bahwa pencpaian ketahanan energi sangat ditopang oleh industri jasa penunjang migas. Penguatan industri valve sangat relavan dan menjadi komponen penting dalam industri migas karena kandalannya berpengaruh langsung pada keamanan operasi, effesiensi, dan kontiunitas pasokan. “Dengan demikian, industri valve samakin berkembang dan menjadi bagian dari rantai pasok industri migas. Kementerian ESDM mendorong tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi tetapi memberikan nilai tambah pada perekonomian nasional,” katanya.

Kepala Kelompok Kerja Kapasitas Nasional dan Jaminan Kualitas SKK Migas Djoko Budiyanto menambahkan sinergi antara PT KII dan OMS Saleri diharapkan mampu memperkuat keterhubungan industri nasional sehingga penggunaan produk lokal semakin meningkat. “Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat keterhubungan industri dalam negeri sehingga penggunaan produk lokal semakin besar dan industri valve nasional berkembang semakin kompetitif,” ujarnya.(LH)