JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menyatakan kehadiran dan perkembangan kendaraan listrik belakangan ini cukup diwaspadai. Pasalnya jika terus tumbuh pesat maka bisnis bahan bakar minyak (BBM) yang jadi salah satu bisnis utama Pertamina akan langsung terdampak.

PT Pertamina (Persero) mengakui bisnis bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi salah satu bisnis utama akan langsung terdampak dari perkembangan kendaraan listrik. Mas’ud Khamid, Direktur Pemasaran Retail Pertamina, mengatakan salah satu strategi yang dilakukan untuk mengantisipasi kehadiran kendaraan listrik adalah dengan menjemput bola menghadirkan berbagai layanan baru kepada masyarakat.

Tantangan Pertamina saat ini adalah pemanfaatan teknologi dalam menjalankan bisnis hilir. Hal itu belum diimplementasikan secara optimal dan Pertamina  harus segera berbenah karena jika tidak akan langsung memberikan dampak ke konsumen Pertamina.

Mas’ud mencontohkan perkembangan mobil listrik yang terjadi di China telah membuat perusahaan migas di sana mengalami stagnansi.

“Tetapi yang lebih gawat dari itu adalah mobil listrik, kendaraan listrik karena itulah main customer kami. Tren di China luar biasa dahsyatnya. Bahkan penjualan minyak di sana, tidak tumbuh, padahal marketnya tumbuh. Market baru itu dimakan oleh electric vehicle. Kami juga harus berpikir ke sana,” kata Mas’ud di Kantor BPH Migas Jakarta, Kamis (15/8).

Menurut Mas’ud, apa yang sedang terjadi di China sangat mungkin terjadi di Indonesia. Untuk itu Pertamina saat ini terus menggenjot agar produk dari minyak atau gasnya bisa diserap¬† seluruh lapisan masyarakat.

“Karena ini masih sektor energi dan menyentuh rakyat kecil. Inilah the real competitor kami di situ. Kami sedang berpikir keras bagaimana keterjangkauan ini bisa dilayani pakai migas atau dilayani pakai solusi substitusi. Ini perlu pemikiran bersama. Saat ini di China ada sekitar 2,7 juta kendaraan listrik. Dan itu trennya terus naik dari 4,7 juta dari kendaraan listrik di dunia, China sekitar 2,7. juta Dan China dengan Indonesia tidak jauh,” ungkap mas’ud.

Dia mengatakan perkembangan energi listrik untuk kendaraan menjadi real kompetitor bagi bisnis minyak ke depannya. Oleh karenanya Pertamina tengah bersiap agar substitusi energi tersebut tidak membuat Pertamina jalan di tempat. Termasuk juga untuk masuk dalam bisnis mobil listrik yakni penyediaan fasilitas pengisian daya listrik atau stasiun pengisian listrik umum (SPLU). Namun hal tersebut tentu sangat tergantung dari regulasi ke depannya. Saat ini Pertamina juga telah memiliki fasilitas SPLU yang berada di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Kuningan. “Dalam situasi dinamika disrupsi seperti ini, Pertamina tetap waspada,” tukas dia.

Di tempat terpisah, Djoko Siswanto, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), mengatakan Pertamina ikut berperan dalam pengembangan mobil listrik. SPBU milik Pertamina bisa dijadikan sebagai tempat penyediaan SPLU. Pertamina tidak perlu cemas dengan pengembangan mobil listrik karena pada dasarnya sudah ada road map penggunaan kendaraan listrik.

“Kami berharap di SPBU-SPBU itu ada infrastruktur untuk nyolok, ada untuk charging,” kata Djoko.(RI)